ADAB PENUNTUT ILMU KEPADA GURUNYA (Bagian 10) MEMINTA IZIN

Ditulis Oleh: Suyudi Mokoginta

بسم الله الرحمن الرحيم

MEMINTA IZIN

Seorang pelajar, hendaknya meminta izin kepada Gurunya dalam 3 hal: Ketika mau mengambil ilmu darinya; ketika bertanya; dan ketika akan pindah pada Guru yang lain.

Mengapa demikian?
Simaklah hikmah dan faidahnya dalam penjelasan berikut:

Allah -عز وجل- berfirman:

قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰۤى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Artinya: “Musa berkata kepadanya, Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”. (QS. Al-Kahf 18: Ayat 66).

Imam Ibnu Katsir -رحمه الله تعالى- ketika menafsirkan ayat ini berkata: “(Ini) merupakan pertanyaan yang sangat lemah lembut, bukan pertanyaan yang terkesan menetapkan dan memaksa. Beginilah seharusnya bentuk pertanyaan seorang murid kepada seorang Guru!”.

Imam Ibnu Jama’ah -رحمه الله تعالى- berkata : “Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak masuk menemui Gurunya, ketika Gurunya berada pada majelis yang bukan untuk umum, kecuali dengan meminta izin terlebih dahulu, baik Gurunya sedang dalam keadaan bersendirian atau ada orang lain bersamanya.

Maka jika ia telah meminta izin, dan permintaan itu diketahui oleh Gurunya, lalu tidak diizinkan, maka ia segera berpaling dan janganlah ia mengulang-ulang permintaannya walaupun ia menyangka bahwa Gurunya tidak mengetahui keberadaannya. Dan janganlah ia menambah permintaan izinnya diatas tiga kali, atau tiga kali mengetuk pintu… “. (Tadzkirotus sami’ wal mutakallim : 143).

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid -رحمه الله تعالى- berkata : “Dan jika timbul keinginanmu untuk pindah pada Guru yang lain untuk belajar, maka minta izinlah kepadanya, karena sesungguhnya hal itu lebih menunjukkan sikap mengakui kehormatannya, dan lebih menawan hatinya untuk mencintai dan bersikap lembut kepadamu”. (Hilyah tholibul ilmi).

Ketika menjelaskan perkataan di atas, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin -رحمه الله تعالى- berkata : “…terkadang dapat diketahui darinya apa yang Engkau tidak ketahui tentang Guru baru yang Engkau akan pergi untuk belajar kepadanya, maka ia akan menasehatimu.

Karena kebanyakkan pemuda terkadang tertipu dengan retorika, cara penjelasan yang baik, dan kefasihan seorang manusia, maka meraka pun menyangka bahwa seseorang itu besar kedudukannya, akan tetapi sebenarnya ia di atas kesalahan.

Maka dari pada itu, meminta izin kepada Guru ketika akan pindah pada Guru yang lain, memiliki faidah yang banyak, diantaranya yang disebutkan oleh Syaikh Bakr, dan diantaranya juga apa yang telah kami isyaratkan”. (Lihat: Adabut Tholib ma’a syaikhihi halaman: 22-23, karya Asy-Syaikh ‘Aidh bin Muqbil Ar-robi’iy).

Saudaraku sesama pelajar yang semoga dirahmati Allah, demikianlah seharusnya kita memperlakukan Guru kita, Guru yang mengajarkan Agama yang menjadi kebutuhan utama kita.

Janganlah kita samakan cara bergaul dengan Guru Agama kita, dengan cara oknum pelajar dan mahasiswa umum, dalam memperlakukan Guru dan Dosen mereka yang seenaknya saja.

Semoga bermanfaat. Wallahul muwaffiq.

|Akhukum Suyudi Mokoginta, Dimurojaah Oleh Ustadz Abu Uwais Musaddad.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Jum’at, 5 Robiul Akhir 1442 H/20 November 2020 M.

www.minhajussunnah.or.id

Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: