ADAB PENUNTUT ILMU KEPADA GURUNYA (Bagian 6)

Ditulis Oleh: Suyudi Mokoginta

بسم الله الرحمن الرحيم

BERSABAR DALAM MENDAMPINGI DAN MENGAMBIL ILMU DARI GURU.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا  ٦٧ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا  ٦٨ قَالَ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا  ٦٩

Artinya: “Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. (QS. Al-Kahf 18: Ayat 67-69).

Syaikh As-Sa’diy -رحمه الله- menyebutkan bahwa diantara faidah ayat ini adalah : “Bahwasanya siapa yang tidak memiliki kekuatan sabar dan keteguhan yang baik dalam mendampingi seorang Alim dan Ilmu, maka akan terluput darinya ilmu yang banyak, sesuai kadar ketidak sabarannya. Maka siapa yang tidak memiliki kesabaran, dia tidak akan mendapatkan ilmu. Dan siapa yang terus bersabar, dia akan mendapatkan apa yang ia usahakan…” sebagaimana perkataan Khidir kepada Nabi Musa dalam ayat di atas.

Lalu, selain bersabar, apa yang harus kita lakukan ketika mendapati sikap yang buruk dari Guru kita? Mari kita simak penjelasan Imam Ibnu Jamaah -رحمه الله- berikut ini!

Imam Ibnu Jamaah -رحمه الله- berkata : “Penuntut ilmu hendaknya bersabar atas sikap keras atau akhlak buruk yang terlihat pada Gurunya, dan hendaknya hal itu tidak menghalanginya untuk terus mendampinginya, dan baiknya Aqidahnya. Dan hendaknya ia menjelaskan dengan cara yang baik tentang perbuatan buruk yang nampak itu, bahwa yang benar bukanlah demikian. Dan ketika ia menemui sikap buruk Gurunya, hendaklah pertama kali ia memaklumi, dan bertaubat serta memohon ampun kepada Allah atas apa yang terjadi, dan hendaklah ia menyalahkan dirinya sendiri. Karena semua itu, lebih melanggengkan kecintaan kepada Gurunya, lebih menjaga hatinya, dan lebih bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.”

Sebagian Salaf berkata : “Siapa yang tidak bersabar dengan kehinaan menuntut ilmu, maka akan terisa umurnya dalam gelepnya kebodohan. Dan barangsiapa yang bersabar, maka ia akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat”.

Seorang penyair berkata :

لطمة عالم في الخد مني
الذ الي من شرب الرحيق

Tamparan seorang Guru di pipiku
Lebih lezat bagiku daripada meminum khamer

Nabi melarang memukul wajah, namun penyair hanya ingin menggambarkan besarnya kecintaannya pada ilmu, dan besarnya kesabarannya atas pengajaran seorang Guru, dan besarnya keinginannya untuk mendapat pengajaran. (Lihat: Adabut Tholib ma’a syaikhihi halaman: 14-15, karya Asy-Syaikh ‘Aidh bin Muqbil Ar-robi’iy).

Wallahul muwaffiq

|Akhukum Suyudi Mokoginta, Dimurojaah Oleh Abu Uwais Musaddad.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Jumat, 21 Shofar 1442 H/09 Oktober 2020 M.

www.minhajussunnah.or.id

Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: