ADAB PENUNTUT ILMU KEPADA GURUNYA (Bagian 7)

Ditulis Oleh: Suyudi Mokoginta

بسم الله الرحمن الرحيم

MENAATI GURU DALAM PERKARA YANG BUKAN KEMAKSIATAN

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu… “. (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -رحمه الله- menyebutkan : “Ulil Amri itu ada dua jenis: Ulama dan Umaro (Pemerintah)… “.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

قَا لَ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ صَا بِرًا وَّلَاۤ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا

Artinya: “Dia (Musa) berkata, Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun”. (QS. Al-Kahf 18: Ayat 69).

Imam Ibnul Qoyyim berkata : “… Umaro hanya ditaati jika mereka memerintahkan sesuai konsekuensi ilmu, maka ketaatan kepada mereka mengikuti ketaatan pada Ulama, dan sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik, dan sesuai dengan tuntutan ilmu… “.

Syaikh As-Sa’diy -رحمه الله- berkata : “Allah memerintahkan untuk mentaati Ulim Amri, dan mereka adalah orang-orang yang memegang urusan manusia, dari Umaro, Para Hakim, dan Mufti. Karena sesungguhnya urusan Agama dan Dunia manusia tidak akan lurus kecuali dengan menaati dan mematuhi mereka, sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah, dan bentuk pengharapan yang tinggi terhadap balasan yang ada disisinya. Akan tetapi dengan syarat, mereka tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah. Jika mereka memerintahkan demikian, “maka tidak ada ketaatan pada makhluk dalam perkara kemaksiatan kepada Maha Pencipta”.

Syaikh ‘Aidh bin Muqbil Ar-robi’iy -حفظه الله- berkata : “Maka penuntut ilmu yang diberi taufiq, ia menaati Gurunya semampunya, sesuai batasan syariat dan adab yang mulia.

Dan jika seluruh kaum muslimin saja dituntut untuk menaati ulama, maka penuntut ilmu lebih tertuntut lagi untuk menaati Gurunya, karena Gurunya memiliki hak yang sangat banyak yang harus ia tunaikan.

Dan yang dimaksud dengan Ulama disini adalah Ulama yang Haq, yang istiqomah di atas Al-Quran dan As-Sunnah, sesuai pemahaman para Salafussholih. (Lihat: Adabut Tholib ma’a syaikhihi halaman: 16-17, karya Asy-Syaikh ‘Aidh bin Muqbil Ar-robi’iy).

Saudaraku sesama pelajar yang semoga dirahmati Allah! Terkadang ada penyakit yang suka menggerogoti hati seorang pelajar, yaitu dia merasa lebih tahu daripada Gurunya, sehingga membuat dia ragu mengikuti arahan Gurunya dalam belajar. Ini sungguh tidak dibenarkan.

Ingatlah bahwa seorang Ustadz (Yang bermanhaj salaf) ia tidak akan berani tampil mengajar kecuali setelah ia belajar dan yakin bahwa ia telah mumpuni untuk mengajar, ditambah lagi rekomendasi dari Guru mereka untuk berdakwah, itupun pastinya mereka berdakwah, mengajar dan membimbing kita dengan penuh kehati-hatian, mempertimbangkan segala langkah agar sesuai bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah, maka hendaklah kita serahkan urusan kepada mereka, terutama dalam perkara dakwah dan kegiatan ajar-mengajar, jangan malah kita yang mau mengatur mereka, dengan berkata : “seharusnya begini begitu”, seakan-akan kita yang lebih tahu, kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

Semoga Allah menjadikan kita semua penuntut ilmu yang istiqomah, aamiin.

Wallahul muwaffiq.

|Akhukum Suyudi Mokoginta, Dimurojaah Oleh Abu Uwais Musaddad.
|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Kamis, 27 Shofar 1442 H/15 Oktober 2020 M.

www.minhajussunnah.or.id

Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: