AKHLAK YANG BAIK, APA UNTUNGNYA?

AKHLAK YANG BAIK, APA UNTUNGNYA?

Di antara keutamaan atau buah berharga dari akhlak yang baik adalah sebagai berikut:

1). Baiknya akhlak adalah salah satu tanda sempurnanya keimanan seseorang. Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya”.[1]

2). Baiknya akhlak seseorang adalah sebab mendapat kecintaan dari Rasulullah dan dekat dengan beliau. Beliau –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku tempatnya pada hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya diantara kalian”.[2]

3). Baiknya akhlak adalah di antara kelebihan dan keutamaan Nabi kita –shallallahu`alaihi wa sallam- di mana beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Allah ta`ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Surat Al-Ahzab Ayat 21).

Beliau berada pada baiknya akhlak dan manusia pemilik akhlak terbaik karena akhlak beliau adalah akhlak Al-Qur’an. Makananya yakni Seluruh akhlak yang ada dalam Al-Qur`an beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan semuanya. `Aisyah mengatakan:

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ

Artinya: “ Sesungguhnya akhlak Nabi adalah (mengamalkan adab-adab) yang terapat dalam Al-Qur’an”.[3]

Al-Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini, beliau mengatakan: maknanya adalah bahwa beliau mengamalkan Al-Qur’an, beliau berhenti pada batasan-batasan yang terdapat di dalam Al-Qur’an (tanpa menerjang larangan yang terkandung di dalamnya), beliau beradab dengan adab-adab yang ada di dalamnya, beliau mengambil pelajaran dari kisah-kisah dan permisalan yang ada di dalamnya, beliau mentadabburinya, dan beliau membacanya dengan sebaik-baik bacaan.[4]

4). Bukti bahwa baiknya akhlak adalah sesuatu yang utama bisa dilihat bahwa Nabi kita –shallallahu`alaihi wa sallam- diutus untuk menyempurnakannya, jika akhlak-akhlak baik ini bukan sesuatu yang penting tentu tidak perlu disempurnakan namun cukup dihapus saja dalam syariat. Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diitus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.[5]

5). Orang yang memiliki akhlaq yang bagus adalah sebaik-baiknya manusia. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً

Artinya: “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling bagus akhlaqnya”.[6]

6). Akhlaq mulia merupakan bagian penting dalam agama. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقاً ، وَإِنَّ خُلُقَ اْلإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya bagi setiap dien memiliki akhlaq, dan akhlaq Islam adalah malu”.[7]

7). Akhlaq yang mulia akan mengantarkan ke derajat orang yang senantiasa mengerjakan puasa dan shalat malam. Diriwayatkan dari ‘Aisyah -radiyallahu ‘anha-, ia berkata bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Artinya: “Sesungguhnya dengan akhlaq mulia seorang mukmin akan sampai ke derajat orang yang mengerjakan puasa dan shalat malam”.[8]

8). Akhlaq mulia itu berat timbangannya di akhirat. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah menjelaskan betapa beratnya nilai timbangan akhlaq mulia di akhirat kelak jika dibandingkan dengan seluruh amalan. Beliau bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya dari akhlaq mulia ketika diletakkan di atas mizan (timbangan amal)”.[9]

9). Orang yang berakhlak baik adalah orang yang paling dicintai oleh Allah. Diriwayatkan dari Usamah bin Syariik bahwa para shahabat bertanya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَبُّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya: “Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah hamba yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab: yang paling baik akhlaknya”.[10]

10). Akhlak baik adalah amalan yang paling sering memasukkan hamba ke surga. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَكْثَرُ مَا يَلِجُ بِهِ الْإِنْسَانُ النَّارَ الْأَجْوَفَانِ الْفَمُ ، وَالْفَرْجُ ، وَأَكْثَرُ مَا يَلِجُ بِهِ الْإِنْسَانُ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Artinya: “Perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah al-ajwafan, yaitu mulut dan kemaluan. Sedangkan perkara yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan baiknya akhlak”.[11]

11). Akhlak yang baik adalah merupakan pemberian yang terbaik dari Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah -shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ النَّاسَ لَمْ يُعْطَوْا شَيْئًا خَيْرًا مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya: “Sesungguhnya manusia tidaklah diberi sesuatu yang lebih baik dibanding akhlak yang baik”.[12]

 

|Abu Uwais Musaddad
|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Selasa 11 Jumaadal Aakhirah 1439 H/ 27 Februari 2018 M.

———————————————————————————————————————

[1] Riwayat At-Tirmidzi no 1162.

[2] Riwayat At-Tirmidzi no. 2018.

[3] Riwayat Muslim no. 746.

[4] Syarhu Muslim III/258.

[5] Riwayat Ahmad no. 8939 ta`liq Syu`aib Al-Arna’uth, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 273, dan di shahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahiihah no. 45.

[6] Riwayat Al-Bukhari no. 5688.

[7] Riwayat Ibnu Majah no. 4181, Ath-Thabrani dalam Al-Ausath no. 1758.

[8] Riwayat Abu Daud no. 4798, Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib no. 2643.

[9] Riwayat At-Tirmidzi no. 2003, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani  dalam As-Silsilah Ash-Shahihah No. 876.

[10] Riwayat Ath-Thabrani no. 471, Al-Haitsami berkata: Rijalnya adalah rijal yang shahih, Ibnu Hibban no. 486, Syu`aib Al-Arna’uth berkata: sanadnya shahih, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam shahihul jami` no. 179.

[11] Riwayat Ahmad no. 7894, 9085, 9694. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 289, 294. Ibnu Majah no. 4246, At-Tirmidzi no. 2004, Ibnu Hibban no. 476. Dan dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani.

[12] Riwayat Ahmad no. 18477, Ibnu Hibban 6061, Ibnu Majah 3436, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam shahihul jami` no. 1977.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: