Faidah Hadits Ke 1485 Kitab Bulughul Maram

MELIHAT KEBAWAH MENUMBUHKAN QONA`AH

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ -قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ- عَلَيْكُمْ

Artinya: “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu lebih gampang untuk tidak meremehkan nikmat Allah yang ada padamu”.

 

Riwayat Hadits:

(Hadits ini diriwayat oleh Imam Muslim no. 2963, At-Tirmidzi no. 2513, Ibnu Majah no. 4142).

 

Faidah Hadits:

  1. Pentingnya menyebutkan alasan ketika memerintah maupun melarang, karena hal itu lebih mudah diterima akal. Misalnya seorang ayah melarang anaknya jangan buka internet, atau google, atau youtube, tapi tanpa menyebutkan alasannya maka yang terjadi bukan berhenti tapi malah penasaran dan bertambahnya rasa ingin tahu dari sang anak.
  2. Hadits ini masih bersifat umum ketika nabi menyatakan: “Pandanglah orang yang berada di bawahmu dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu”. Dalam hal apa saja Nabi memerintahkan kita untuk melihat ke bawah? Apakah dalam masalah ketika berada di atas bangunan? Atau di lantai yang bertingkat? Atau masalah jumlah harta? Atau masalah jumlah istri? Sekali lagi hadits ini masih umum, maka perlu penjalasan. Dan sebaik-baik penjelasan hadits adalah penjelasan dari yang mengucapkannya yaitu Rasulullah –sallallahu`alaihi wa sallam-. Bila tidak ditemukan barulah dicarikan penjelasannya para sahabat –radhiyallahu `anhum-.
  1. Di antara penjelasan tentang hadits ini adalah sabda Nabi –shallallahu `alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan rupa (fisik) maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya”.[1]

Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam Fathul Baari mengatakan, “Yang dimaksud dengan fisik adalah bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi”.[2]

  1. Imam Al Mubarakfury –rahimahullah- menjelaskan: “Apabila seseorang memandang pada orang yang diberi kelebihan dari sisi kenikmatan dunia, maka dia akan menganggap remeh nikmat Allah yang ada pada dirinya. Dan hal itu akan menjadi penyebab kemurkaan Tuhannya. Namun bila ia melihat ke bawah, dia akan bersyukur, bersikap tawadhu, dan memuji Rabb-nya”.[3]
  1. Sudah selayaknya bagi seorang mukmin untuk tidak menolehkan pandangannya kepada ahli dunia, karena hal itu hanya akan menumbuhkan kekaguman yang selalu berakhir dengan jiwa yang lelah, capek, gelisah.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Surat Tha Ha: 131).

  1. Dalam masalah agama dan akhirat, hendaklah seseorang berlomba-lomba dengan orang yang di atasnya.

Dalam masalah berlomba-lomba untuk meraih kenikmatan surga, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)

Artinya: “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”. (Surat Al Muthaffifin: 22-26).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

Artinya: “Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan”. (Surat Al Ma’idah: 48).

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali Imron: 133).

  1. Al Hasan Al Bashri mengatakan:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُنَافِسُكَ فِي الدُّنْيَا فَنَافِسْهُ فِي الْآخِرَةِ

Artinya: Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat”.[4]

  1. Rela-lah dengan pembagian dari Allah.

Seorang hamba dituntut untuk ridlo terhadap keputusan Allah, baik keputusan untuknya atau pun yang ia lihat pada saudaranya yang Allah lebihkan anugerah-Nya.

Sebagaimana ucapan Al-Fudhail bin `Iyadh: “Qana’ah adalah zuhud, yaitu rasa cukup. Barang siapa merealisasikan keyakinan, percaya penuh kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam segala urusannya, ridha terhadap pengaturan-Nya, memutus ketergantungan kepada makhluk dengan terus berharap dan takut (kepada Allah), lalu hal tersebut mencegahnya dari mencari dunia dengan cara-cara yang makruh, maka dia telah merealisasikan hakikat zuhud terhadap dunia. Ia pun menjadi orang yang paling berkecukupan”.[5]

Dalam sejarah pendahulu kita, di sana terdapat kisah yang sangat menggugah jiwa dari kelalaiannya. Cerita tentang sosok manusia yang selalu menjaga hatinya dari sifat iri terhadap karunia Allah pada orang lain. Sampai-sampai karena amal tersebut laki-laki ini dicap sebagai laki-laki calon penghuni surga oleh Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam-.

Diceritakan dari Anas ibn Malik, dia berkata: “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam-, beliau bersabda: “Akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga”, lalu muncul seorang laki laki Anshar yang jenggotnya masih bertetesan bekas air wudhu, sambil menggantungkan kedua sandalnya pada tangan kirinya.

Esok harinya Nabi –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda seperti itu lagi, lalu muncul laki-laki itu lagi seperti keadaan yang pertama, dan pada hari ketiga Nabi –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda seperti itu juga dan muncul laki laki itu kembali seperti keadaannya yang pertama.

Ketika Nabi –shallallahu`alaihi wa sallam-berdiri, Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash –radliyallahu`anhu- mengikuti laki-laki tersebut dengan berujar: “Kawan, saya ini sebenarnya sedang bertengkar dengan ayahku dan saya bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari, jika boleh, ijinkan saya tinggal di tempatmu hingga tiga malam”, “Tentu”, jawab laki-laki tersebut.

Anas ibn Malik berkata, Abdullah (Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash) bercerita: aku tinggal bersama laki-laki tersebut selama tiga malam, anehnya tidak pernah aku temukan mengerjakan shalat malam sama sekali, hanya saja jika ia bangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjangnya, lalu berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla dan bertakbir sampai ia mendirikan shalat fajar, selain itu juga aku tidak pernah mendengar dia berkata kecuali yang baik baik saja, maka ketika berlalu tiga malam dan hampir hampir saja aku menganggap remeh amalannya, aku berkata: “Wahai kawan, sebenarnya antara aku dengan ayahku sama sekali tidak ada percekcokan dan saling mendiamkan seperti yang telah aku katakan, akan tetapi aku mendengar Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda tentang dirimu tiga kali: “akan muncul pada kalian seorang laki-laki penghuni surga, lalu kamulah yang muncul tiga kali tersebut, maka aku ingin tinggal bersamamu agar dapat melihat apa saja yang kamu kerjakan hingga aku dapat mengikutinya, namun aku tidak pernah melihatmu mengerjakan amalan yang banyak, lalu amalan apa yang membuat Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- sampai mengatakan engkau ahli surga?”, laki-laki itu menjawab: “Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat”, maka tatkala aku berpaling laki laki tersebut memanggilku dan berkata: “Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat, hanya saja saya tidak pernah mendapatkan pada diriku, rasa ingin menipu terhadap siapa pun dari kaum muslimin, dan saya juga tidak pernah merasa iri dengki kepada seorang atas kebaikan yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang”, maka Abdullah berkata, “Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada derajat yang tidak bisa kami lakukan”.[6]

Kisah yang menakjubkan, di mana kita saksikan kenyataannya memang demikian, banyak orang yang mampu qiyaamul lail, membaca al-qur’an, atau ibadah berat lainnya, namun hatinya belum mampu menerima atas ketetapan Allah berupa anugerah kebaikan yang Allah berikan kepada orang lain. Hatinya masih saja terbesit rasa iri kenapa bukan dirinya saja yang mendapat anugerah tersebut. Lebih keji lagi bila sampai timbul hasad hingga berharap kebaikan yang melekat pada saudaranya dapat lenyap secepatnya. Dan hatinya selalu merasa tidak puas dan merasa kurang atas apa-apa yang Allah bagikan kepadanya, hingga pelupuk matanya selalu digelayuti rasa miskin, kurang, dan tidak akan merasa cukup. Selengkapnya silahkan baca pada tulisan saya di http://alkawakib.com/adab/narimo-ing-pandom-rela-dengan-pembagian-dari-allah/

  1. Tujuan hidup seorang muslim adalah akhirat.

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Menulis: “Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka Allah -`azza wa jalla- akan menjadikan urusan dunianya TERCERAI-BERAI, BERANTAKAN, SERBA SULIT, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi KEGELISAHAN.

Allah juga menjadikan kefaqiran di depan matanya, selalu TAKUT MISKIN, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang Allah karuniakan kepadanya. Dunia yang didapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allah, mengorbankan hak-hak istri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.

Cinta kepada dunia dan lebih mementingkannya dari akhirat adalah pokok semua kejelekan, oleh karenanya tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Selengkapnya silahkan baca pada tulisan saya di http://alkawakib.com/nasehat-hati/akhirat-tujuan-hidup-seorang-muslim/

  1. Silahkan kaya asal bertaqwa!

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari pada kekayaan. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat”.[7]

Bahkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نِعْمَ الْـمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

Artinya: “Harta terbaik adalah yang di bawah kepemilikan laki-laki yang salih”. (riwayat Ahmad dalam Musnad dengan sanad hasan, juz 4, hadits no. 197 dan 202). Selengkapnya silahkan baca pada tulisan saya di http://alkawakib.com/nasehat-hati/silahkan-kaya/

  1. Kekayaan paling hakiki adalah kekayaan hati

Hati yang bahagi adalah ketika bahagia karena tidak silau dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Bukan murni karena memiliki harta.

Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya: ”Yang disebut dengan kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang digelari kaya adalah hati yang selalu merasa cukup sudah”.[8]

Orang yang kaya adalah yang senantiasa merasa cukup, tidak selalu memandang silau orang-orang yang berada di atasnya dalam perkara dunia lalu tamak ingin seperti mereka. Selengkapnya silahkan baca pada tulisan saya di http://alkawakib.com/nasehat-hati/silahkan-kaya/

  1. Karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati, perasaan cukup atas apa yang Allah beri, maka mereka yang miskin adalah orang-orang yang selalu merasa kurang walau bergelimang harta beralas tahta, mereka adalah jiwa-jiwa yang layak dikasihani karena selalu merasa kurang dan kurang hingga tak pernah hidup dengan merasa berkecukupan.

Segala puji untuk Allah yang dengan nikmat-Nya terselesaikan amal-amal shalih, tulisan ini adalah ringkasan dari materi kajian bulanan di Masjid Umar bin Khaaththab desa Supilopong Kec. Tomini Sulwesi Tengah Pada Hari Kamis Malam Jum’at 15 Jumadal Ula 1439 H/1 Februari 2018 M.

[1] Riwayat Muslim no. 2963.

[2] Fathul Bari, [11/32].

[3] Tuhfatul Ahwadzi [7:182].

[4] Latha’iful Ma`aarif Li Ibn Rajab hal. 268.

[5]Jaami’ul Ulum wal Hikam hal. 392.

[6] Riwayat Ahmad dari Anas ibn Malik, Musnad Ahmad ibn Hanbal, [III/166] hadis no. 12720 dan An-Nasâi, Sunan an-Nasa’iy, [IX/318] hadis no. 10633.

[7] Riwayat Ibnu Majah no. 2141.

[8] Riwayat Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051.

 

|Abu Uwais Musaddad

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Kamis 15 Jumadal Ula 1439 H/1 Februari 2018 M.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: