KEWIBAWAAN SEPERTI APA YANG ENGKAU CARI?

KEWIBAWAAN SEPERTI APA YANG ENGKAU CARI?

Kewibawaan itu tidaklah diraih karena menjauhi pergaulan dengan manusia.

Ingin disegani bukanlah dengan berpura-pura khusyu` padahal hati busuk.

Bahkan Nabi pun duduk-duduk bersama sahabatnya, kata Umar:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ

Artinya: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari (Riwayat Muslim n0. 8).

Bahkan Nabi bercanda bersama istrinya dan juga sahabat-sahabatnya, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata:

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا؟ قَالَ: نَعَمْ غَيْرَ إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا

Artinya: Para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau mencadai kami? Beliau -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: Betul, akan tetapi aku tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang benar. (Hadist ini shahih, lihat kitab As-Shahihah, no. 1726).

Bahkan Nabi menganjurkan untuk bermanis muka dan menampakkan wajah yang berseri-seri, Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Artinya: Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia. (Riwayat Al Hakim dalam mustadroknya, beliau mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Bahkan kewibawaan itu hadir menyelimuti bila seseorang TAKUT kepada Allah Ta`ala. Bagaimana mungkin orang lain tidak segan kepadanya bila dirinya adalah sosok yang menjauhi hawa nafsu, takut kepada Allah, tidak tergoda oleh syetan bahkan syetan saja bisa jadi takut dan mencari jalan lain bila berpapasan dengannya, apalagi manusia. Umar –radhiyallahu `anhu- bisa menjadi contoh dalam hal ini.

Jangan mencari kewibawaan dengan menyamar menjadi sosok yang khusyu` namun hati busuk, menyendiri namun bermaksiat sembunyi-sembunyi, bermuka masam dan enggan tersenyum. Kepura-puraan dan penyamaran itu tidak selamaya terpuji.

|Abu Uwais Musaddad
|Kotaraya, Sulawesi Tengah, Selasa 29 Dzulqa`dah 1438 H/22 Agustus 2017 M.

(Artikel Ini Pernah Dimuat Dalam Akun Facebook Abu Uwais Musaddad Pada Status No. 1152).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: