MEMASYARAKATKAN DOA-DOA NABI DI SDIT

KESEMPATAN MEMASYARAKATKAN DOA-DOA NABI -SHALLALLAHU ‘ALAIH WA SALLAM- DI SDIT

[1] Pada prinsipnya, orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi -shallallahu ‘alahi wa sallam- akan menjadikan petunjuk-petunjuk beliau berada di atas pendapat madzhab yang diikutinya, pandangan pribadi gurunya, tradisi masyarakatnya, kearifan lokal kampung halamannya dan keinginan hawa nafsunya. Karena Beliau diutus ke tengah manusia untuk menyampaikan petunjuk terbaik dari Allah Ta’ala, Rabb seluruh makhluk. Simak Al-Hujurat Ayat 1, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surat Al-Hujurat Ayat 1).

[2] Dalam doa-doa yang diajarkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ada penegasan tauhid dengan hanya meminta kepada Allah Ta’ala Dzat Pengatur alam semesta dan Pemilik segala sesuatu. Doa-doa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memuat kebenaran hakiki, keselamatan dari kesalahan aqidah, keselamatan dari bahasa atau permintaan yang berlebihan; dan sebenarnya telah mengakomodasi keinginan-keinginan manusia.

[3] Ketika seseorang berdoa dengan doa-doa yang diajarkan Nabinya- shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia juga sedang menunjukkan ittibanya kepada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maksudnya, lebih menunjukkan kalau dia adalah pengikut sejati, seperti itu.

[4] Sebaliknya, bila seseorang justru lebih menyukai doa-doa produk manusia biasa (bukan nabi, siapapun dia), ia telah mengutamakan yang rendah dan mencampakkan yang terbaik. Termasuk di dalamnya misalnya sholawat-sholawat gubahan manusia, baik ditulis dengan sadar atau kata mereka didapat saat kondisi di luar sadar (baca: mimpi).

[5] Orang yang berbuat seperti ini, seolah-olah telah mengamalkan seluruh doa dan dzikir dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan ia merasa kurang hingga perlu mengamalkan doa dan dzikir dari manusia lain.

[6] Doa-doa terbaik sudah ada dalam Kitabullah dan Hadits-hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Orang akan mendapat Doa yang Terbaik, Dijamin 100% Berkualitas Tinggi dan Tidak Ada Kesalahan. Tidak ada Yang KW 1, atau KW 2.

[7] Orang yang menggalakkan doa-doa tertentu yang bukan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, baik itu guru, tokoh agama, orang tua; dan menyerukannya kepada masyarakat, dengan seiring perjalanan waktu akan terpahami (dianggap) bahwa doa itu doa masyru’ dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dianggap sunnah untuk membacanya, apalagi bila telah diembeli-embeli ‘testimoni’ mengenai ‘khasiat’ doa itu, orang akan punya keyakinan lain terhadap doa susunan manusia tersebut, atau sampai berkata: NDongo ngganggo iki wae, Mandhiii Tenaan, Wis akeh wong sing hajate kalaksanan lho bar moco iki (Membaca doa ini saja! Doanya mujarab, sudah banyak orang yang cita-citanya terkabul setelah membacaa ini)

[8] Orang yang menggalakkan doa-doa tertentu meski berisi Asmaaul Husna (doa yang bukan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) dan menambahkan keterangan, “Dibaca di pagi dan sore hari”, ia telah menetapkan sebuah syariat. Ya, ia telah mengadakan syariat di dalam agama Rasulullah Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

[9] Mari kita mengingat kembali, “Berdoa itu termasuk amalan paling agung dan paling utama”, maka seyogyanya kita semua lebih mengutamakan doa-doa dari insan yang sudah kita sering sebut sebagai uswah hasanah, Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

[10] Maka, silahkan para pemangku Yayasan Islam, Praktisi Pendidik Islam, para Guru di Sekolah-sekolah Islam, para Ustadz, para Kyai, termasuk para Orang Tua generasi Islam mendatang untuk mempelajari doa-doa dan dzikir-dzikir dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan mengamalkannya dan selanjutnya mengajarkannya kepada umat Islam dan generasi umat Islam.

[11] Apakah pantas, ada sekian banyak doa-doa yang diajarkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang juga berisi tawassul kepada Allah dengan nama-nama-Nya, namun seseorang malah lebih memilih produk manusia yang bukan nabi?!.

[12] Kembali kami ingin mengajak para Orang Tua untuk menanamkan cinta Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada diri mereka dan anak-anak keturunan mereka; dengan mempelajari petunjuk-petunjuk Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang sudah pasti dicintai oleh Allah Ta’ala, dan kemudian mengajarkannya kepada mereka, termasuk dalam hal ini teks-teks doa dan dzikir-dzikir dari Al-Qur`an atau Hadits; dan memotivasi mereka untuk menghafal dan mengamalkannya. Hal ini adalah ladang pahala besar bagi Orang Tua, baik saat orang tua masih hidup dan setelah wafatnya.

[13] Ulama Islam telah memberikan perhatian besar dalam masalah ini. Lihat saja misalnya, kitab-kitab Hadits, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim memuat bab tentang doa-doa, , kitab ad-Dua karya Imam ath-Thabrani, al-Adzkar karya Imam Nawawi, al-Kalim ath-Thayyib karya Ibnu Taimiyyah, al-Wabil ash-Shayyib karya Ibnul Qayyim. Atau buku Dzikir Saku yang Best Seller dan dibagi-bagikan ke Jamaah Haji dengan Free, Hisnul Muslim. Di negeri ini pun, sudah diterjemahkan oleh banyak penerbit.

[14] Imam ath-Thabrani rahimahullah dalam kitab ad-Dua menyampaikan bahwa motivasi penulisan kitab tersebut yaitu karena prihatin melihat banyak orang yang merutinkan doa-doa yang puitis dan doa-doa yang dibuat-buat sejumlah hitungan hari yang ditulis orang-orang yang tidak diriwayatkan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

[15] Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Kewajiban seseorang untuk mengamalkan doa-doa yang ada di dalam Kitabullah dan Hadits-hadits yang shahih, dan mengabaikan doa dari selain keduanya. Jangan sampai seseorang mengatakan, “Ah, aku memilih yng ini saja”, Sebab Allah telah memilihkan bagi Nabi-Nya dan para wali-Nya doa-doa dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka berdoa”. (Tafsir al-Qurthubi 4/149 dengan terjemahan bebas).

 

[16] Al-Qadhi Iyaadh rahimahullah mengatakan, “Tidak sepatutnya seseorang berpaling dari doa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. (Kutipan dari al-Futuhal ar-Rabbaniyyah Ibnu Allan 1/17).

[17] Ibnu Taimiyah –rahimahullah- mengatakan, “Termasuk orang yang punyai aib besar, yaitu orang yang menjadikan hizb yang bukan dari Nabi -shallallahu ‘alaih wa sallam- sebagai bacaan rutin, walaupun hizb itu dari sebagian syaikh dengan mengabaikan hizb-hizb yang dahulu dibaca oleh penghulu anak Adam, imam para rasul dan hujjah Allah di hadapan hamba-hamba-Nya”. (Majmu Fatawa [22/232]).

[18] Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan sebaik-baik doa adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Beliau juga diberi karunia jawaami’ul kalim, kata-kata yang singkat tapi bermakna luas dan mendalam, termasuk dalam doa-doa yang Beliau ajarkan.

[19] Maka, silahkan para Orang Tua untuk memainkan peran tawashi bil haq dalam masalah ini, dengan menyampaikan masukan kepada Pihak Sekolah untuk mengoreksi hal-hal yang berhubungan dengan masalah ini dan lain-lainnya.

Ketika  Makan siang santri yang sering bersantan atau pedas, kadang ada Orang Tua santri yang tergerak untuk menemui pihak sekolah agar jatah makan siang anak tidak banyak yang bersantan dan pedas, maka semestinya dalam hal-hal yang berhubungan dengan agama, yang diajarkan oleh para guru namun tidak disyariatkan oleh Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, mestinya Orang Tua/Wali Murid lebih bersemangat untuk itu.

[20] Jadi, apa motivasi seseorang memasyarakatkan doa-doa dan dzikir-dzikir hasil susunan dan karya seseorang yang bukan nabi? Apa karena bisa didendangkan, dan anak-anak suka nyanyian? Padahal doa itu mesti dilakukan dalam keadaan serius, harap-harap cemas, dibaca dengan penuh adab, dengan suara lirih.

[21] Mari Memasyarakatkan Doa-doa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

(Sumber-sumber yang tertulis dalam tulisan ini dari kitab Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-Abbad –hafizhahumallah-, Fiqhul Ad’iyati wal Adzkar 2).

Disalin dari tulisan Ustadz Muhammad Ashim Musthafa (Penulis Aktif Di Majalah As-Sunnah) Dengan Ijin Edit Kata Seperlunya Tanpa Merubah Makna. Demak, Jawa Tengah. 15 Jumadal Aakhiran 1439 H/03 Maret 2018 M.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: