ULAMA’ TERDAHULU TIDAK BERBICARA TENTANG SUATU ILMU KECUALI PADA BIDANGNYA (JURUSANNYA)

ULAMA’ TERDAHULU TIDAK BERBICARA TENTANG SUATU ILMU KECUALI PADA BIDANGNYA (JURUSANNYA), DAN ORANG AWAM ZAMAN DAHULU TIDAK BERTANYA TENTANG SUATU ILMU KECUALI KEPADA AHLINYA

Ditulis oleh: Abdul Aziz bin Ahmad (Pengajar Di Ponpes Minhajus Sunnah, Bogor)

Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi -rahimahullah- berkata:

“Orang-orang terdahulu (memiliki) sifat wara’ (taqwa) dan kecerdasan, di mana “ORANG ‘ALIM (BERILMU) TENTANG SUATU CABANG ILMU (DI ANTARA MEREKA), TIDAK BERBICARA TENTANG SUATU ILMU YANG BUKAN MENJADI JURUSANNYA”. Dan orang awam (zaman dahulu) tidak bertanya tentang setiap ilmu melainkan kepada orang yang sudah terkenal keilmuannya pada bidang tersebut.

Maka orang-orang di Baghdad pada zaman Al-Ma’mun dan setelahnya:

– Yang ingin bertanya tentang Hadits dan Fiqihnya, maka mereka bertanya kepada Imam Ahmad dan orang-orang yang sepertinya…

– Yang ingin bertanya tentang Ra’yu dan Qiyas mereka bertanya kepada murid-murid Imam Abu Hanifah…

– Yang ingin bertanya tentang bahasa Arab, mereka bertanya kepada murid-murid Al-Kisaa-I dan orang-orang seperti mereka…

– Yang ingin bertanya tentang wara’ dan penyakit-penyakit hati, mereka bertanya kepada orang-orang seperti Bisyr Al-Haafi dan murid-muridnya…

– Yang ingin bertanya tentang maghaazi (peperangan-peperangan) dan sejarah-sejarah, mereka bertanya kepada murid-murid Al-Waaqidi dan orang-orang seperti mereka…
Dan begitu seterusnya”. (Kitabul `Ibadah, hlm.207).

“Mereka (ulama terdahulu) tidak berbicara kecuali pada apa-apa yang mereka MUTQIN padanya yang dalilnya (sangat jelas) seperti matahari di siang bolong”. (Tanbihu Dzawil Afhaam, hlm.28).

Kemudian Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi berkata: “Akan tetapi pada abad pertengahan keadaannya berubah. BETAPA BANYAK ORANG YANG TAHU TENTANG SUATU CABANG ILMU, (NAMUN) BERBICARA PADA YANG BUKAN JURUSANNYA, DAN ORANG-ORANG AWAM TERTIPU DENGAN KEMASYHURANNYA, MAKA MEREKA PUN TAQLID KEPADANYA DALAM SEMUA CABANG ILMU”. (Kitabul `Ibadah, hlm.208).

|Bogor, Jawa Barat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: