BAGAIMANA CARA MEREALISASIKAN TAUHID?

BAGAIMANA CARA MEREALISASIKAN TAUHID?

Oleh: Abu Uwais Musaddad

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas –hafidzahullah- menulis: Adapun yang dimaksud dengan merealisasikan tauhid iaalah membersihkannnya dari syiriik besar maupun syirik kecil, dari bid`ah yang berupa perkataan dan keyakinan, dari bid`ah yang berupa perbuatan, juga dari perbuatan maksiat. Itu semua dilakukan dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah -subhanahu wa ta`ala- dalam setiap perkataan, perbuatan, dan niat. Juga dengan menghindar dari perbuatan syirik besar yang membatalkan tauhid, dan syirik kecil yang meniadakan kesempurnaannya.

Di samping itu wajib menjauhi bid`ah dan maksiat yang mengotori tauhid itu, yang meniadakan kesempurnaannya, serta mencegah dari perbuatan keduanya terhadap tauhid tersebut.

Siapa saja yang merealisasikan tauhid -ditandai penuhnya hati dengan iman, tauhid, keikhlasan, yang ia benarkan dengan amalan, dia tunduk kepada semua perintah Allah -subhanahu wa ta`ala-, serta dia tidak mengotorinya dengan terus bermaksiat- maka dia akan masuk surga tanpa hisab, bahkan termasuk orang-orang yang pertama memasuki dan menempatinya.

Di antara keistimewaan yang menunjukkan pengamalan tauhid adalah sempurnanya ketaatan kepada Allah -subhanahu wa ta`ala- dan kuatnya tawakkal kepadany-Nya, dia tidak memalingkan hatinya kepada makhluk dalam setiap urusan pribadi, tidak meminnta penghormatan, serta tidak meminta-minta kepada mereka. Ya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Sebailknya, kondisi lahir dan bathinnya, perkataan dan perbuatannya, cinta dan bencinya serta seluruh keadaannya dimaksudkan untuk mengharapkan wajah Allah -subhanahu wa ta`ala- dan mengikuti contoh Nabi -shallallahu`alaihi wa sallam-. Ketahuilah, manusia yang berkedudukan agung ini bertingkat-tingkat. Firman-Nya:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا

Artinya: “Dan masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan…” (Surat Al-An`am: 132).

MEREALISASIKAN TAUHID BUKANLAH DENGAN ANGAN-ANGAN DAN DAKWAAN YANG KOSONG DARI KENYATAAN. IA TIDAK JUGA DENGAN KEKAGUMAN YANG KOSONG DARI TINDAKAN NYATA. AKAN TETAPI, IA DIREALISASIKAN DENGAN APA YANG TERTANAM DALAM HATI DARI KEIMANAN DAN HAKIKAT IHSAN, SERTA DIBENARKAN OLEH AKHLAK YANG INDAH DAN AMALAN-AMALAN SHALIH YANG MULIA.

(Disalin Dari Buku SYARAH KITAB TAUHID halaman 53-54. Karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas –hafidzahullah-).

SECARIK PESAN:
Dalam tempat yang berbeda beliau menyebutkan (secara makna): untuk mencapai Tauhidullah (mentauhidkan Allah dengan benar secara hakiki) maka kita harus melalui shirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Maksud dari kalimat “melalui jalan yang lurus” ini bisa dimaknai dengan makna melalui kitabullah (Al-Qur’an), bisa pula dimaknai dengan melalui Al-Islam, bisa pula dimaknai dengan melalui Al-Haq (Kebenaran), bisa pula dimaknai dengan melalui jalannya Nabi –shallallahu `alaihi wa sallam- dan dua shahabat beliau (yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu `anhuma-)

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Ahad 23 Shafar H/12 Nopember 2017 M.

(Artikel Ini Pernah Dimuat Dalam Akun Facebook Abu Uwais Musaddad Pada Status No. 1167).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: