FAIDAH 3 LANDASAN UTAMA (Bagian 3)

FAIDAH 3 LANDASAN UTAMA (Bagian 3)

Berikut ini adalah lanjutan FAIDAH 3 LANDASAN UTAMA dari kitab Tsalatsatul Ushul karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, semoga Allah memberi kemudahan kepada kita dalam memahami agama-Nya. Aamiin.

اعلم رحمك الله

Ilmuilah! –semoga Allah merahmatimu-

FAIDAH:

  1. Beliau –rahimahullah- mengatakan dalam permulaan tulisan ini sebagai pembuka dengan kalimat “i`lam” (ilmuilah!!!). Kata “ilmuilah” maknanya adalah yakinilah dan kokohlah (di atasnya). Karena Ilmu adalah dasar hukum untuk sebuah pemahaman yang pasti (bukan dugaan, bukan persangkaan, bukan keragu-raguan ).[1]
  2. Ilmu dikatakan sebagai dasar hukum untuk sebuah pemahaman yang “pasti” karena memang kadang ada sebuah pengetahuan yang tidak didasari atas sebuah kepastian tapi didasari pada sebuah keraguan, persangkaan, dan lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bahwa pengetahuan terhadap sesuatu itu bisa didasari pada 6 hal.
  • 1. Pengetahuan yang didasari ilmu, yaitu pengetahuan yang didasari pada sebuah kepastian terhadap sesuatu sesuai dengan hakikat yang sesungguhnya.
  • 2. Pengetahuan yang didasari al-jahlul basith, yaitu pengetahuan yang didasari pada ketidaktahuan sama sekali.
  • 3. Pengetahuan yang didasari al-jahlul murakkab, yaitu pengetahuan yang didasari pada sebuah kesimpulan yang sebaliknya dari hakikat yang sebenarnya.
  • 4. Pengetahuan yang didasari al-wahm, yaitu pengetahuan yang didasari pada sebuah pengetahuan yang lebih banyak salahnya.
  • 5. Pengetahuan yang didasari asy-syakk, yaitu pengetahuan yang didasari pada sebuah kesimpulan  yang hampir sama antara dugaan salah dan dugaan benarnya.
  • 6. Pengetahuan yang didasari adz-dzann, yaitu pengetahuan yang didasari pada sebuah pengetahuan yang lebih banyak benarnya ketimbang salahnya.[2]
  1. Kata (perintah) “ilmuilah” ini memberikan peringatan untuk sebuah perhatian dan mengajak kepada pendengar untuk mendengarkan apa-apa yang hendak diucapkan, dan ini adalah sebuah fasilitas untuk mendapatkan ilmu dan fasilitas untuk sebuah kesiapan terhadap apa-apa yang hendak diajarkan kepadamu.[3]
  1. Oleh karena itu sangat disarankan bagi pembicara apabila berbicara di hadapan manusia hendaklah memilih ungkapan-ungkapan yang beragam, yang demikian itu dapat memfokuskan perhatiannya, karena pendengar itu secara tabiat  adalah butuh terhadap perkara-perkara yang dapat menggairahkan pikirannya dan mempengaruhi perhatiannnya, karena sebab tersebut pula lah Rasulullah –shallallahualaihi wa sallam- mengajukan pertanyaan dengan bentuk yang beragam antara ungkapan yang satu dengan ungkapan yang lain untuk para sahabat, (misalnya):  “tidakkah kalian mau bila aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?, tahukah kalian apa yang difirmankan rabb kalian?, tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ghibah?”. Dan maksud semua ini adalah agar para pendengar bersiap-siap untuk mendengarkan apa yang hendak diperdengarkan kepada mereka. Ini adalah ungkapan yang dipilih karena alasan “pendahuluan yang sesuai” terhadap sebuah pembicaraan.[4]
  1. Ucapan “-rahimakallah-“ (semoga Allah merahmatimu), adalah do`a untukmu agar engkau mendapat rahmat, dengan makna lainnya adalah semoga Allah mengampunimu atas apa-apa yang telah lalu, dan memberi taufiq kepadamu, serta menjagamu untuk waktu yang akan datang. Bila engkau dekatkan makna antara ar-rahmah dengan al-maghfirah maka makna dari al-maghfirah (ampunan) adalah untuk perkara yang telah lampau, sedangkan makna dari ar-rahmah (rahmat) adalah permohonan keselamatan dari keburukan dosa dan bahayanya di masa yang akan datang.[5]
  1. Ucapan beliau “-rahimakallah-“ ini adalah do`a yang ditujukan untuk penuntut ilmu, Asy-syaikh di sini mendoakan para penuntut ilmu agar Allah merahmati mereka. Ini adalah bentuk kelembutan dari seorang pengajar kepada yang diajarinya. Beliau memulai dengan ucapan yang baik, beliau juga memuali dengan do`a yang baik pula, yang seperti itu adalah agar bisa memberi pengaruh kepada yang belajar dan agar mau menerima yang mengajar. Adapun bila seorang pengajar memulai pelajarannya dengan ucapan yang keras, atau dengan kalimat yang tidak tepat, tentu yang demikian itu membuat mereka lari (meninggalkan pelajaran). Maka wajib bagi seorang pengajar atau pun seseorang yang berdakwah di jalan Allah, atau pun seorang yang beramar ma`ruf nahi munkar hendaknya bersikap lembut kepada orang yang diajak berbicara, mendoakannya, memujinya, menggunakan kalimat yang lemah lembut, tentu hal ini lebih bisa diterima.[6]

[1] (Lihat Syarhu Al-Ushuul Ats-Tsalaatsah halaman 9 karya Asy-Syaikh `Abdul `Aziiz bin `abdullah Ar-Rajihi).

[2] (Lihat Syarhu Tsalaatsatil Ushuul, halaman 18 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

[3] (Lihat Hushuulul Ma’muul Bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, halaman 12 karya Asy-Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan).

[4] (Lihat Hushuulul Ma’muul Bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, halaman 12 karya Asy-Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan).

[5] (Lihat Haasyiyah Tsalatsatil Ushuul Wa Adillatihaa halaman 9 karya Asy-Syaikh `Abdurrahmaan bin Muhammad bin Qasim Al-Hanbaliy An-Najdiy).

[6] (Lihat Syarhu Al-Ushuul Ats-tsalaatsah halaman 9-10 Karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan).

(Disalin Dari Naskah FAIDAH 3 LANDASAN UTAMA,Karya Abu Uwais Musaddad).

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: