BULAN SYA`BAN, BULAN PERSIAPAN RAMADHAN

Ditulis Oleh: Abu Uwais Musaddad

Sungguh kita sangat butuh yang namanya persiapan Ramadhan, pemanasan Ramadhan. Hampir setiap jenis pertandingan dalam olah Raga, sebelum berjuang di lapangan pasti pemainnya melakukan pemanasan, tidak ada atlit yang sebelum terjun ke lapangan itu disuruh tidur-tiduran terlebih dahulu, meskipun sekedar pemain cadangan. Tujuannya apa?? Bila seorang pemain langsung terjun ke lapangan tanpa pemanasan maka dikhawatirkan kakinya akan keram. Begitu juga kenapa banyak orang yang baru start sehari atau dua hari di bulan Ramadhan badannya sudah lelah?, semangatnya sudah keram?, gampang malas?, karena persiapannya dadakan.

Maka yang pertama yang mesti kita persiapkan adalah ilmu. Dengan ilmu ini kita akan mengetahui balasan kebaikan apa saja yang akan kita dapatkan bila kita berpuasa dan beramal sholih di bulan Ramadhan. Bila tanpa ilmu maka biasannya seseorang ketika kedatangan bulan ampunan tersebut bukannya bergembira tetapi malah merasa sempit dada. Ini menunjukkan kurangnya ilmu, baik tentang fiqih Ramadhannya maupun motifasi yang ada di dalamnya.
Sekali lagi, seahli apapun pemain bola, petinju, dan oleh raga lainnya, tetap butuh pemanasan sebelum bertanding. Nah kita, seahli apa sih kita dalam membaca Al-Qur’an sebelum Ramadhan? Seahli apa sih kita dalam berpuasa sebelum Ramadhan? Seahli apa sih kita dalam sholat malam sebelum Ramadhan? Kok sok-sokan mau bertanding dengan langsung tanpa pemanasan?? Belum lagi di bulan ramadhan itu banyak godaanya, bukan cuma Allah yang ngasih diskon pahala, mall, pasar, toko juga lagi serru-serrunya ngasih diskon harga, maka siapa yang tidak punya persiapan, dia bagaikan pepatah “jauh panggang dari api” untuk meraih keutamaan Ramadhan.

Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: “Dari ‘Aisyah -radhiallahu ’anha-: “Terkadang Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- puasa beberapa hari sampai kami katakana: beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan terkadang beliau tidak berpuasa terus, hingga kami katakan: beliau tidak sedang melakukan puasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah -sallallahu `alaihi wa sallam- menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah -sallallahu `alaihi wa sallam- memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya`ban”. (Riwayat Al-Bukhari no. 1969, Muslim no 1156).

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid -radhiallahu `anhuma- ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ ؟!! قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Wahai Rasulullah! saya tidak melihat engkau berpuasa di berbagai bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?. Beliau menjawab: Ini adalah bulan yang banyak disepelekan manusia, bulan ini terletak antara Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Tuhan seluruh alam. Dan saya senang ketika amalanku di angkat dalam kondisi aku sedang berpuasa”. (Riwayat An-Nasa’I no. 2357).

Maka dia antara hikmah mulianya bulan Sya`ban selain hikmah-hikmah yang begitu banyak yaitu sebagai bulan persiapan atau pemanasan agar jiwa merasa siap dan bersemangat dalam menunaikan kewajiban-kewajiban di bulan Ramadhan, sebagaimana para salaf sudah persiapan menghadapi bulan Ramadhan sejak bulan Sya`ban dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dan berisedekah agar di bulan Ramadhan nantinya lebih ringan karena sudah terbiasa, bahkan sejak enam bulan sebelum Ramnadhan dengan doa-doa yang mereka langitkan.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasannya umat Islam di masa beliau jika memasuki bulan Sya’ban, maka mereka sibuk dengan mushaf-mushaf dan mereka membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk memperkuat orang-orang yang lemah dan miskin dalam menghadapi puasa Ramadhan. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 258).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Kamis 15 Sya`ban 1441 H/ 09 April 2020 M.

(Artikel Ini Pernah Dimuat Dalam Akun Facebook Abu Uwais Musaddad Pada Status No. 1290).

Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2813-504 a.n. MUKHLISIN, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000 (MUKHLISIN) /085361615000 (ADMIN)

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: