FAIDAH HADITS RIYADHUSH-SHALIHIN (Hadits Ke 31) KAMU BELUM MERASAKAN MUSHIBAH YANG AKU RASAKAN

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ: اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ. فَقِيلَ لَهَا: إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas ibn Malik -radhiyallahu `anhu- ia berkata: Nabi -shallallahu `alaihi wasallam- pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Lalu beliau bersabda: Bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah!. Wanita itu menjawab: Menjauhlah engkau dariku! SESUNGGUHNYA ENGKAU BELUM PERNAH MERASAKAN MUSIBAH YANG MENIMPAKU. Wanita itu tidak tahu bahwa yang berkata itu adalah Nabi -shallallahu `alaihi wasallam-. Kemudian ada yang mengatakan pada wanita itu: Sesungguhnya (orang yang berkata tadi) adalah Nabi -shallallahu `alaihi wasallam-. Kemudian wanita tersebut mendatangi pintu (rumah) Nabi -shallallahu `alaihi wasallam-dan dia tidak mendapati di rumah Nabi -shallallahu `alaihi wasallam-penjaga pintu. Lalu wanita ini berkata (kepada Nabi -shallallahu `alaihi wasallam-: ‘Aku tadi tidak mengenalmu. Lalu Nabi -shallallahu `alaihi wasallam- bersabda: Sesungguhnya kesabaran yang sebenarnya adalah saat pukulan pertama. (Riwayat Al-Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 1535).

SYARAH SINGKAT:

Kamu belum merasakan apa yang aku rasakan, bayangkan jika mushibah ini menimpa dirimu, dan ungkapan-ungkapan sejenis ini sering dilontarkan oleh mereka yang baru saja mendapat mushibah. Ternyata, ucapan serupa pernah diucapkan pula oleh seorang wanita dalam sebuah hadits (di atas) yang menjelaskan bahwa sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada pukulan yang pertama.

Jadi pelaku yang sempat menolak nasehat Nabi untuk bertaqwa dan sabar ini adalah wanita, ingat! Wanita (sosok yang diistilahkan Nabi dengan makhluk yang kurang agama dan akalnya, bukan untuk menyudutkan mereka namun agar lebih menaruh kelembutan kasih dan sayang). Semoga kita yang laki-laki dimudahkan untuk bersabar atas mushibah yang datang dengan ridho kepada ketetapan taqdir Allah dan menjauhi sifat murka kepada-Nya serta berharap pahala dari-Nya.

Ternyata, ucapan wanita tersebut dengan lafadz: SESUNGGUHNYA ENGKAU BELUM PERNAH MERASAKAN MUSIBAH YANG MENIMPAKU ini tidak diladeni Nabi. Nabi meninggalkannya, tidak membantahnya, seakan kita mendapat teladan betapa tidak pentingnya meladeni mereka yang saat mendapat mushibah berdalih seperti ungkapan wanita di atas.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: Ini menunjukkan bahwa mushibah yang menimpanya itu sangat BESAR, maka Nabi pun meninggalkannya.

Beliau juga mengatakan: Kesabaran yang diganjar oleh Allah bagi pelakunya adalah jika dia bersabar pada saat pertama kali ditimpa mushibah, itulah kesabaran.

Adapun kesabaran setelah berlalunya masa yang pertama kali, maka bisa jadi dia telah mendapatkan hiburan seperti dihibur dengan binatang. Maka kesabaran yang sebenarnya adalah ketika manusia pertama kali ditimpa mushibah, dia bersabar sejak awal dan memohon pahala kepada Allah, bersikap baik dan berucap doa:

إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها

Artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya”. (HR. Muslim no. 1526). (Lihat Syarh Riyadhish-Shalihin, Jilid 1 hal. 227, Cetakan Madaarul Wathan. Karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

FAIDAH HADITS:

Asy-Syaikh Muhammad bin shalih Al-Utsaimin menjelaskan faidah hadits ini di antaranya:

1. Rasulullah -shallallahu `alaihi wasallam- adalah seorang yang berakhlak baik dan beliau senantiasa mengajak kepada kebenaran dan kebaikan. Oleh karena itu ketika beliau melihat wanita itu menangis di kuburan, beliau menyuruhnya agar bertaqwa kepada Allah dan bersabar.

2. Seseorang itu dimaafkan karena tidak tahu, baik dia tidak tahu terhadap hukum syariat maupun tidak paham keadaan.

3. Tidak sepantasnya bagi seseorang yang bertanggung jawab terhadap urusan kaum muslimin untuk mepekerjakan seorang penjaga di rumahnya, guna melarang orang yang sedang membutuhkan untuk masuk, kecuali jika dia takut terlalu banyak orang yang datang dan berdesak-desakan, serta sedang sibuk dengan urusan lain sedangkan urusan mereka akan diselesaika pada waktu yang lain.

4. Kesabaran yang pelakunya dipuji oleh Allah adalah kesabaran yang dilakukan pada saat pertama kali ditimpa mushibah.

5. Menangis di kuburan dapat menafikan kesabaran. (Lihat Syarh Riyadhish-Shalihin, Jilid 1 hal. 226-229, Cetakan Madaarul Wathan. Karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Asy-Syaikh Salim bin `Id Al-Hilaliy menjelaskan faidah hadits ini di antaranya:

1. Ketidak sabaran itu bertolak belakang dengan ketaqwaan.

2. Seseorang tidak diberi pahala karena semata-mata sudah mendapat mushibah, karena mushibah bukanlah suatu misi manusia. Namun manusia diberi pahala karena kebaikan niatnya, serta keteguhan , kesabaran dan keridhoan hatinya terhadap ketetapan taqdir Allah.

3. Dianjurkan bersabar dalam menerima hal-hal yang menyakitkan ketika menyampaikan nasehat, atau pun ketika menebar kebaikan. Atas dasar itulah Rasulullah -shallallahu `alaihi wasallam- bersikap sabar terhadap tindakan menyakitkan meupun ucapan wanita tersebut yang mengandung ejekan.

4. Hadits ini dijadikan dalil atas bolehnya kaum wanita berziarah kubur. Sebab jika ziarah mereka dianggap sebagai suatu kemungkaran tentu Nabi akan melarang wanita tersebut sebagaimana beliau melarang para shahabat meratap. (Lihat Kitab Bahjatun-nadzirin Syarhu Riyadhish-shalihin, Jilid 1 Hal. 78-79 Cet. Daar Ibnul Jauziy. Karya Asy-Syaikh Salim bin `ied Al-Hilaliy).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Kamis 22 Jumadal Ula 1444 H/ 15 Desember 2022 M.

———
Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Kec. Mepanga Kab. Parigimoutong Palu – Sulawesi Tengah, Dengan Menjadi DONATUR.

PERTISIPASI DAKWAH DAN PESANTREN: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: