MEMINANG SAKINAH DI MAJELIS ILMU

MEMINANG SAKINAH DI MAJELIS ILMU

Oleh: Abu Uwais Musaddad

Rasulullah –shallallhu `alaihi wa sallam- bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

Artinya: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan saling mengajarkan di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat Allah, mereka akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi-Nya”.(Riwayat Muslim no. 2699, Ahmad [II/252, 325], Abu Dawud no. 3643, At-Tirmidzi no. 2646, Ibnu Majah no. 225, Dari Shahabat Abu Hurairah –radhiyallahu `anhu-, lafadz ini milik Muslim).

SAKINAH, maknanya adalah ketenangan, keantengan dan kenyamanan. (Lihat; Al-Minhah Ar-Rabbaniyyah Fii Syarhi Al-Arba`in An-Nawawiyyah hal. 271 karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan).

Barangsiapa menginginkan ketenangan dalam hidupnya, maka hadirilah majelis ilmu! Jangan lari darinya, jangan pura-pura hidup tenang bahagia bila nyatanya jauh dari sumber cahaya. Ilmu adalah cahaya penerang jiwa, di majelis ilmulah tempat melepas rindu terhadap petuah-petuah agama.

SAKINAH, adalah kenikmatan yang mesti diupayakan setiap jiwa untuk bisa meminangnya, menyemayamkannya di dalam dada, karena tanpanya bahkan seseorang akan kehilangan kebahagiaan dalam belajar agama, merasa beban walau baru duduk di majelis ilmu sejnak saja, tolah-toleh mencari jam dinding untuk isyarat bahwa dirinya sudah tidak betah.

SAKINAH, bila benar ia telah merasuk dalam jiwa para penuntut ilmu di majelis-majelis mereka, niscaya ketenangan akan menghilangkan sikap terburu-buru, ingin cepat selesai, ingin cepat pulang, ingin cepat istirahat tidur. Bila ketergesa-gesaan ini masih menghantui dan men-syetani itu artinya ia belum meraih ketenangan yang hakiki. Maka tempuhlah ilmu dengan memperbaiki niat, ikhlaslah karena Allah, merasa butuhlah dengan ilmu syar`i!!!

SAKINAH, bukan hanya hal itu semua. Bahkan dengan hadirnya SAKINAH maka terjadilah kisah berikut ini:

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas –hafidzahullah- menulis dalam menjelaskan hadits di atas: Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib –radhiyallahu`anhu- ia berkata: Seseorang membaca surat Al-Kahfi dan di sampingnya terdapat kuda kemudia ia ditutupi awan. Awan itu berputar-putar dan mendekat hingga kuda orang itu lari dari awan tersebut. Keesokan harinya, orang tersebut menghadap kepada Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- dan bercerita kepada beliau tentang kejadian yang dialaminya. Beliau lalu bersabda:

تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ

Artinya: “Itulah ketenangan yang turun bagi Al-Qur’an”. (Riwayat Al-Bukhari no. 3614, Muslim no. 795). (Lihat Syarah Arba`in An-Nawawi halaman 728 karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas).

FAIDAH HADITS:
1. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan berkata saat mengomentari hadits ini: “dalam hal ini terdapat penjelasan bahwa menuntut ilmu itu hendaknya di masjid, karena masjid adalah rumah Allah, tempat malaikat, di dalamnya ada SAKINAH dan rahmat. Maka hendaknya menuntut ilmu itu di masjid, bukan di bumi perkemahan, buka di tempat-tempat peristirahatan. Tidaklah terlarang bila memang majelis ilmu diadakan di tempat-tempat tersebut, atau mengadakan bimbingan pelajaran di sana. Hanya saja Masjid itu lebih utama. ((Lihat; Al-Minhah Ar-Rabbaniyyah Fii Syarhi Al-Arba`in An-Nawawiyyah hal. 271 karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan).

2. Ilmu yang paling utama adalah mempelajari kitabullah (Al-Qur’an) dengan membaca, memahami dan mengamalkannya kemudian Sunnah Nabi –shallallahu`alaihi wa sallam- dan keduanya WAJIB dipahami menurut pemahaman salafush shalih. (Lihat Syarah Arba`in An-Nawawi halaman 734 karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas).

3. Menetapkan tentang adanya Malaikat. (Lihat Syarah Arba`in An-Nawawi halaman 734 karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Selasa 09 Rajab 1439 H/27 Maret 2018 M.

(Artikel Ini Pernah Dimuat Dalam Akun Facebook Abu Uwais Musaddad Pada Status No. 1175).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: