KEUTAMAAN ABU BAKR ASH-SIDDIQ

KEUTAMAAN ABU BAKR ASH-SIDDIQ

Nasab Beliau

Nama beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu-ay bin Ghalib al-Qurasyi At-Taimi.  Nasabnya bertemu dengan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada kakeknya yang bernama Murrah bin Ka’ab. Ayahnya bernama Abu Quhafah, Utsman bin Amir bin Amr. Sedangkan ibunya bernama Ummul Khair, Salma binti Shakhr bin Amir. Nama kunyah beliau adalah Abu Bakar, beliau dilahirkan dua tahun enam bulan setelah Tahun Gajah.

Beliau merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki, kemudian ayah, ibu, istri, dan anak-anaknya pun masuk Islam. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Seorang Muslim harus mempunyai keyakinan yang kuat dan ia tidak boleh ragu sedikit pun bahwasanya sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan Rasul adalah Abu Bakar -radhiyallahu ‘anhu-, dan beliau ini manusia terbaik dari umat ini setelah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Begitu banyak dalil, baik itu dari al-Quran, as-Sunnah, dan ijma’ kaum Muslimin yang menunjukkan bahwa sahabat Abu Bakar -radhiyallahu ‘anhu- merupakan manusia terbaik umat ini setelah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. –

DALIL DARI AL-QURAN TENTANG KEUTAMAAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU ‘ANHU

1). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ

Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah), sedang dia (Muhammad), adalah salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka-cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad)”. (Surat At-Taubah: 40).

Kaum Muslimin dan para ulama Ahlussunnah seluruhnya sepakat bahwa yang dimaksud dengan “teman” di dalam ayat tersebut adalah sahabat yang mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di –rahimahullah- menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “salah seorang dari dua orang” itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq -radhiyallahu ‘anhu-, yang mana saat itu mereka berdua (Abu Bakar -radhiyallahu ‘anhu- dan Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) lari dari kota Mekah, dan berlindung di dalam Gua Tsur yang letaknya cukup jauh dari Mekah. Mereka berdua pun tinggal di dalam gua tersebut agar selamat dari pencarian (orang-orang kafir). Mereka berdua pada saat itu benar-benar dalam keadaan yang sangat sulit, karena musuh-musuh yang mencari dan ingin membunuh mereka berdua telah tersebar di mana-mana, di segala penjuru tempat.[1]

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan keutamaan Abu Bakar -radhiyallahu ‘anhu-. Hal itu karena Allah menjadikannya teman bagi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Nabi keluar berhijrah dari Rumah Abu Bakar, Bersama Abu Bakr, Dan Yang Membawakan Tali Adalah Anaknya Abu Bakar (Asma’), Dan beliaulah orang pertama yang mempercayai dan mengimani kebenaran yang dibawa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di saat kebanyakan orang mendustakannya, seluruh orang dewasa yang masuk Islam maka pahalanya mengalir kepada Abu Bakar karena Abu Bakar Adalah laki-laki dewasa yang pertama kali masuk Islam.

2). Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Surat Az-Zumar: 33).

Ibnu Jarir rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: “Orang yang membawa kebenaran” adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan yang dimaksud dengan firmanNya: “dan yang membenarkannya” adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.[2]

3). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الأتْقَى

الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى

وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى

إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى وَلَسَوْفَ يَرْضَى

Artinya: Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas budinya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna). (Surat Al-Lail: 17-21).

Orang yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya) yakni yang mengeluarkannya bukan karena riya’ (agar dilihat manusia) maupun sum’ah (agar didengar mereka), bahkan maksudnya adalah untuk menyucikan dirinya dari dosa dan aib dengan maksud mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla.

Ayat ini menurut Syaikh As Sa’diy menunjukkan, bahwa apabila dalam infak yang sunat sampai meninggalkan yang wajib, seperti membayar hutang, menafkahi orang yang ditanggungnya, dan sebagainya, maka infak itu tidak disyariatkan, bahkan tertolak menurut kebanyakan `ulama, karena seseorang tidaklah menyucikan dirinya dengan mengerjakan yang sunat jika sampai meninggalkan yang wajib.

Menurut sebagian mufassir, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq ketika ia membeli Bilal yang sedang disiksa karena beriman, lalu ia (Abu Bakar) memerdekakannya, maka orang-orang kafir berkata, “Sesungguhnya ia (Abu Bakar) melakukan hal itu adalah karena Bilal pernah berjasa kepadanya.” Maka turunlah ayat ini. Namun demikian, ayat ini berlaku kepada siapa saja, yakni siapa saja yang mengerjakan amalan seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, maka dia akan dijauhkan dari neraka dan akan diberi pahala sebagaimana Abu Bakar Ash Shiddiq -radhiyallahu ‘anhu-.

DALIL DARI AS-SUNNAH TENTANG KEUTAMAAN ABU BAKAR -RADHIYALLAHU ANHU-:

  1. Abu Bakr adalah laki-laki dewasa yang pertama kali masuk Islam.
  2. Abu Bakr diberi gelar dengan Ash-shiddiq
  3. Sabda Nabi: Tidaklah aku menawarkan Islam kepada seorang pun kecuali akan timbul keraguan pada mereka kecuali ABU BAKAR.
  4. Dari rumah Abu Bakr-lah Nabi berangkat Hijrah, setelah dikepung di rumah beliau lalu keluar rumah dengan melempar debu dan kafir quraisy tidak melihat beliau.
  5. Bersama Abu Bakar-lah nabi berangkat hijrah, padahal sejak sebelumnya Abu Bakr sudah ingin berhijrah lebih dulu namun Nabi menahannya. Di suatu siang ketika Nabi berkata: engkau menemaniku berhijrah, maka abu bakr menangis sangking senangnya. Abu bakar menyiapkan dua onta untuk hijrah.
  6. Ketika akan berangkat maka disiapkanlah makanan, karena terburu-buru maka tidak ada tali untuk mengikat makanan dan minuman, maka asma` binti abu bakr (12 th saat itu, hamil 9 bulan, bayi yang ia lahirkan bernama Abdullah bin Zubair bin Al-Awwam) melepas ikat pinggangnya untuk mengikat makanan nabi, sampai Asma diigelari dengan dzaatu nithoqoin. Karena dia punya jasa walau sekedar untuk mengikat makanan nabi.
  7. Kemudian berangkatlah mereka, melewati jalur utara, karena madinah adalah utaranya makkah, namun Nabi ke arah selatan dulu.
  8. Ketika di perjalanan Abu bakar mondar-mandir ke belakang dan ke depan untuk menjaga keamanaan Nabi.
  9. Ketika sampai di gua tsaur (untuk bersembunyi dari kejaran kaum musyrikin) Abu bakar melarang Nabi memasuki goa, karena akan memeriksa terlebih dahulu isinya, agar bila ada yang menimpa maka menimpaku terlebih dahlu, kata abu bakar. Akhirnya ia menemui 3 lobang, abu bakar merobek sarungnya menyumpal dua lubang dan satu lubang lagi dittup dengan kaki beliau, lalu Nabi tidur di paha Abu bakar, kemudian kaki Abu Bakar tersengat ular di lobang kaki tadi, ia menahan sakit sampai menangis bahkan sampai berjatuhan air matanya ke wajah Rasul walau sudah ditahan-tahan perihnya, Nabi bertanya: apa yang menimpamu wahai abu bakar? Kata Abu Bakr: aku dipatok ular tadi tapi aku tidak berani bergerak karena takut engkau terbangun. Lalu nabi meludahinya dan sembuhlah Abu Bakr.
  10. 3 hari 3 malam mampir di gua Tsaur. Strateginya, bekas tapak kaki yang beliau lewati itu ditutupi dengan jejak kaki-kaki kambing di belakang beliau yang digembalakan oleh Amir bin fuhairah (budaknya Abu bakar).
  11. Kemudian datang setiap hari Abdullah bin abu bakr untuk menyampaikan informasi dari Makkah tentang orang-orang kafir di makkah.
  12. Semua peristiwa hijrah nabi ada kisah abu bakar di sisi beliau, sampai Allah memuji abu bakar dengan surat tadi:

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ

Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah), sedang dia (Muhammad), adalah salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka-cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad)”. (Surat At-Taubah: 40).

  1. Ketika (selama) Nabi sakit (menjelang wafat beliau), maka Abu Bakar yang menggantikan Imam sholat. `Aisyah kurang senang bila ayahnya menjadi imam karena sering menangis apabila membaca Al-Qur`an.
  2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah -adhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Siapa di antara kalian yang berpuasa di pagi ini?” Abu Bakar menjawab: “Saya.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit hari ini?” Abu Bakar menjawab: “Saya.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang telah menghadiri jenazah di pagi ini?” Abu Bakar menjawab: “Saya.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin di pagi ini? Abu Bakar menjawab: “Saya”. Kemudian Rasulullah -shallallahu ‘Alaihi wa sallam- bersabda: “Tidaklah semua ini terkumpul dalam diri seseorang kecuali pasti ia masuk surga”.[3]
  3. Dari Abu Darda –radhiallahuanhu `anhu-, ia berkata: “Aku pernah duduk di sebelah Nabi -shallallahualaihi wa sallam-. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi -shallallahualaihi  wa sallam- sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi -shallallahualaihi  wa sallam- berkata: Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah/masalah yang sulit. Lalu Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar mau memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang. (jadi umar tidak memaafkan Abu bakar lalu ini yang membuat Abu bakar sedih, sedih karena tidak dimaafkan oleh sahabatnya, para sahabat kadang terjadi perselisihan, kesalahan, namun kekeliruan mereka terlalu sedikit bila dilihat dari lautan kebaikan mereka dalam beragama).

Nabi -shallallahualaihi  wa sallam- lalu berkata: “Allah mengampunimu wahai Abu Bakar. Sebanyak tiga kali. (seakan beliau berkata: biar saja Umar tidak memaafkanmu tapi tenanglah karena Allah mengampunimu walau Umar tidak mau memaafkanmu).

Tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya: “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah -shallallahualaihi  wa sallam-. Sementara wajah Rasulullah -shallallahualaihi  wa sallam- terlihat memerah karena marah (ketika melihat munculnya Umar), hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk bertumpu pada kedua lututnya: “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. (sekarang Abu bakar membela Umar supaya Nabi memaafkan Umar).

Maka Rasulullah -shallallahualaihi  wa sallam- bersabda: Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, “Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, “Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku? (beliau ucapkan) sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi”.[4]

  1. Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا

Artinya: Dan sekiranya aku diperbolehkan mengambil kekasih dari umatku, maka sungguh aku akan menjadikan Abu Bakar (sebagai kekasih)”.[5]

  1. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya oleh sahabat Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: عَائِشَةُ. قُلْتُ: مِنْ الرِّجَالِ؟ قَالَ: أَبُوهَا

Artinya: Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “‘Aisyah.” Saya (Amru bin Ash) berkata, “Yang dari kalangan laki-laki?” Beliau pun menjawab, “Ayahnya (yaitu Abu Bakar)”.[6]

  1. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

أَبُو بَكْرٍ فِي الجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الجَنَّةِ

Artinya: “Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, dan Ali masuk surga”.[7]

  1. Sepanjang hidupnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dipenuhi kisah-kisah kedermawanan. Misalnya pada peristiwa Tabuk, ketika Rasulullah menyerukan agar para shahabat menyedekahkan hartanya untuk perjuangan di jalan Allah.

Disini Umar bin Khatab -radhiyallahu’anhu- menceritakan: “Suatu hari Rasulullah menyuruh kami agar menginfakan harta kami di jalan Allah, kebetulan pada saat itu aku memiliki harta yang kusimpan di rumah.

Di dalam hati aku berkata: “Saat ini aku memiliki harta, jika aku menginginkan untuk mengalahkan Abu Bakar dalam kebaikan, inilah saatnya”.

Setelah berkata demikian dalam hati, aku segera pulang dengan gembira. Sesampainya di rumah, aku segera membagi dua harta kekayaan yang aku miliki menjadi dua bagian, setenganya aku berikan kepada keluargaku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan setengahnya lagi aku bawa untuk aku serahkan kepada Rasulullah.

Setelah sampai di kediaman Rasulullah, beliau berkata kepadaku: “Wahai Umar, adakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Saya Menjawab: “Ada ya Rasulullah”.

Beliau bertanya lagi: “Apa yang engkau tinggalkan untuk mereka?”

Saya Menjawab: “Saya meninggalkan untuk mereka setengah dari harta saya wahai Rasulullah”.

Kemudian datanglah Abu Bakar -radhiyallahu’anhu- dengan membawa harta yang sangat banyak sekali, melihat hal itu Rasulullah berkata padanya: “Wahai Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Mendengar pertanyaan itu, Abu Bakar menjawab: “Aku meninggalkan untuk keluargaku Allah dan Rasul-Nya”.

Mendengar apa yang dikatakan Abu Bakar, saya berkata dalam hati: “Saya tidak akan pernah mengalahkan Abu Bakar”.

Sikap seperti ini sudah biasa dalam kehidupan para shaha bat. Maka terhadap keluhuran budi Abu Bakar ini, Allah mengujinya dalam Al-Qur’an:

وَسَيُجَنَّبُهَا الأتْقَى

الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى

وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى

إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى وَلَسَوْفَ يَرْضَى

Artinya: Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas budinya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna)”. (Surat Al-Lail: 17-21).

  1. Rasulullah bersabda (artinya): “Tiada harta yang lebih bermanfaat bagiku daripada harta Abu Bakar.” Abu Bakar lalu menangis dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah diriku dan hartaku milik seseorang selain engkau? Dalam suatu riwayat, Sa’id bin Musayyab menambahkan, “Rasulullah menggunakan harta Abu Bakar seperti hartanya sendiri”.
  2. Abdullah bin Zubair –radhiyallahu `anhu- berkata: “Abu Bakar sering membeli budak-budak yang lemah kemudian memerdekakannya.” Suatu ketika, ayah beliau, Abu Quhafah, berkata kepadanya: “Jika budak-budak itu engkau bebaskan, aku berpendapat sebaiknya engkau memilih yang bertubuh kuat, sehingga mereka dapat membantumu suatu saat apabila engkau membutuhkannya”. Abu Bakar Menjawab: “Aku tidak memerdekakan mereka untuk kepentinganku. Kulakukan semua itu semata- mata untuk mendapatkan ridha Allah”.

PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG KEUTAMAAN ABU BAKAR -RADHIYALLAHU ‘ANHU-

1). Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

مَا اخْتَلَفَ أَحَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ فِي تَفْضِيْلِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَتَقْدِيْمِهُمَا عَلَى جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ

Artinya: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara para sahabat dan para tabi’in dalam pengutamaan Abu Bakar dan ‘Umar, serta mendahulukannya dari seluruh sahabat”.[8]

2). Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

اِتَّفَقَ أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى أَنَّ أَفْضَلِهِمْ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ

Artinya: “Ahlussunnah seluruhnya telah sepakat bahwasanya yang terbaik di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar”.[9]

3). Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- berkata:

خَيْرُ الْأُمَّةِ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ، وَعُثْمَانُ بَعْدَ عُمَرَ، وَعَلِيٌّ بَعْدَ عُثْمَانَ … وَهُمْ خَلَفَاءُ رَاشِدُوْنَ مَهْدِيُّوْنَ.

Artinya: “Sebaik-baiknya umat setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, Umar terbaik setelah Abu Bakar, Utsman terbaik setelah Umar, dan Ali terbaik setelah ‘Utsman. … Dan mereka semua merupakan Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk”.[10]

Segala puji untuk Allah yang dengan nikmat-Nya terselesaikan amal-amal shalih, tulisan ini adalah ringkasan dari materi kajian bulanan di Masjid Umar bin Khaaththab desa Supilopong Kec. Tomini Sulwesi Tengah Pada Hari Kamis Malam Jum’at 11 Rabii`ul Awwal 1439 H/30 November 2017 M.

———————————————————————————————

[1] (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ad-Dar al-‘Alamiyyah, halaman 450.)

[2] (Lihat Jami’ al-Bayan [3/34]).

[3] (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 88).

[4] (HR. Bukhari no. 3661).

[5] (HR. Muslim, no. 532).

[6] (HR. Al-Bukhari no. 3662 dan Muslim no. 2384).

[7] (HR. Abu Dawud no. 4649, At-Tirmidzi no. 3747, dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

[8] (Kitab al-I’tiqad, Imam al-Baihaqi, halaman 192).

[9] (Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim [15/148]).

[10] (Thabaqat al-Hanabilah [1/30]).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: