KISAH HABIB AN-NAJJAR

Ditulis Oleh: Abu Uwais Musaddad

Ada 3 Rasul utusan Allah yang diutus kepada suatu penduduk, mereka mengajak penduduk tersebut untuk ta’at kepada Allah dan mengabarkan bahwa mereka bertiga adalah para rasul utusan Allah, namun mereka bertiga ditolak dan didustakan bahkan diancam akan disiksa jika mereka tidak berhenti berdakwah.

Allah berfirman (artinya): “Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: Sungguh, Kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu. Mereka (penduduk negeri) menjawab: Kamu ini hanyalah manusia seperti kami dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu hanyalah pendusta belaka. Mereka berkata: Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah utusan-utusan-(Nya). Dan kewajiban Kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas. Mereka menjawab: Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami. Mereka (utusan-utusan) itu berkata: Kemalangan kamu itu adalah karena ulah kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”. (Surat Yaasiin: 13-19).

Kabar kedatangan 3 rasul tersebut semakin menyebar sampai kepada sudut-sudut kota, salah satu yang mendengar adalah seorang lelaki yang menurut Ibnu Abbas –radhiyallahu `anhu- namanya adalah Habib An-Najjar. Ats-Tsauri berkata dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Abu Mijlaz bahwa namanya adalah Habib bin Murri. Syuhaib bin Bisyr berkata dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Nama laki-laki di surah Yaasiin adalah Habib an-Najjar yang dibunuh oleh kaumnya. Qatadah berkata: “Dia beribadah di sebuah gua. Ketika ia mendengar berita tersebut ia langsung bergegas menuju ke tempat perkumpulan di mana biasanya berkumpul sebelum orang-orang bubar.

Allah berfirman:

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

Artinya: “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. (Surat Yasin: 20).

Ketika ia benar-benar yakin bahwa 3 orang yang ramai dibicarakan itu benar-benar utusan Allah ia langsung beriman dan mengajak orang-orang sekitarnya untuk mengikuti ajaran mereka bertiga. Ia berkata sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ

Artinya: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Surat Yasin: 21).

Habib mengajak orang-orang sekitarnya untuk beriman dan mengikuti ajaran para nabi tersebut yang ikhlash dalam berdakwah dan tidak mengharap imbalan apapun, dan inilah yang harus dimiliki oleh seorang dai agar dakwahnya sukses dan tercatat sebagai amal baik baginya di akhirat, yaitu ikhlash kepada Allah dan tidak mengharap imbalan apapun dari manusia karena pahala yang akan Allah berikan jauh lebih berharga daripada ia memperoleh dunia dan seisinya. Habib juga menjelaskan bahwasanya mereka bertiga adalah orang-orang yang mendapat petunjuk, karena mereka menyeru kepada hal-hal yang dianggap baik oleh akal sehat dan melarang hal-hal yang dianggap buruk oleh akal sehat, sehingga siapapun yang mengikuti mereka maka ia telah mendapatkan petunjuk.

Kemudian ia melanjutkan:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُون

Artinya: “Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?”. (Surat Yasin: 22).

Tampaknya mereka melarang Habib untuk menyembah Allah dan mereka mengajaknya untuk menyembah sesembahan mereka. Dan pertanyaan Habib kepada mereka dalam ayat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran terhadap apa yang mereka sembah. Pertanyaan ini menunjukkan akan kecerdasan Habib dalam berdialog dengan lawan. Ia seakan mengajak orang-orang sekitarnya untuk membuka akal fikiran mereka, apa yang menghalangi antara ia dan menyembah Allah setelah tahu bahwa Allahlah yang menciptakan?, mengapa meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Menciptakan lalu malah berpaling kepada sesembahan selain-Nya yang tak bisa apa-apa?.

أَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِ آلِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنقِذُون. إِنِّي إِذًا لَّفِي ضَلَالٍ مُّبِين

Artinya: “Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata”. (Surat Yasin: 23).

Setelah itu ia mengaku beriman secara terang-terangan kepada 3 rasul utusan Allah tersebut dihadapan mereka yang tidak mau beriman, ia berkata:

إِنِّي آمَنتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

Artinya: “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku”. (Surat Yasin: 24).

Kata-katanya ini, menurut Imam Ath Thabary, arah pembicarannya ditujukan kepada para Rasul yang mendampinginya di akhir hayatnya. Para Rasul itu takjub dan cemburu terhadap iman yang telah menggerakkan Habib An-Najjar berdakwah dengan mempersembahkan raga dan nyawanya. Betapa sebentar dia belajar. Betapa cepat dia memahami. Betapa dalam dia  meyakini. Betapa besar cinta pada kaumnya. Betapa hebat penyampaian dakwahnya. Dan betapa mahal pengorbanannya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ibnu Mas`ud –radhiyallahu `anhu- mengatakan: “setelah ia berkata demikian, mereka yang kafir melompat serempak meginjaknya sampai ususnya keluar dari duburnya akhirnya mereka pun benar-benar membunuhnya, dan pada saat itu tidak ada seorangpun yang membelanya.

Ia meninggal sebagai syahid dan Allah memasukkannya ke dalam surga, Allah berfirman:

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُون .بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِين

Artinya: “Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.” Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”. (Surat Yasin: 26-27).

Ibnu Abbas berkata: “Ia menasehati kaumnya di masa hidupnya dengan mengatakan يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu” dan menasehati mereka juga setelah ia meninggal dengan perkataannya يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُون .بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِين “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir Maktabah Ar-Rusyd Jilid 4 hal. 321).

Sedangkan terhadap kaum yang membangkan Allah berfirman:

وَما أَنْزَلْنا عَلى قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّماءِ وَما كُنَّا مُنْزِلِينَ . إِنْ كانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً واحِدَةً فَإِذا هُمْ خامِدُونَ

Artinya: “Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah ia (mati) sebarang pasukan tentera dari langit (untuk membinasakan mereka), dan tidak perlu Kami menurunkannya. (Kebinasaan mereka) hanyalah dilakukan dengan satu pekikan (yang dahsyat), maka dengan serta merta mereka semua sunyi-sepi tidak hidup lagi”. (Surat Yasin: 28-29).

Demikianlah akhir orang shaleh yang beriman dan berdakwah Allah memasukkannya ke dalam surga-Nya yang seluas langit dan bumi. Sedangkan mereka yang tetap kafir dan mendustakan para nabi dan orang yang berdakwah dikenakan adzab pedih di dunia dan adzab akhirat lebih dahsyat dari adzab dunia.

Kisah ini mengandungi banyak pelajaran yang bisa kita dijadikan pedoman hidup kita, di antaranya ialah:

(1). Hendaknya bagi seseorang untuk menggunakan kesempatan sebaik-baiknya dalam hal memberikan peringatan dan menasihati kaumnya.

(2). Sesungguhnya diperbolehkan bagi seseorang untuk memberi peringatan sesegera mungkin meskipun tanpa muqaddimah jika memang hal itu diperlukan.

(3). Anjuran agar berlemah lembut dalam bertutur kata ketika berdakwah pada orang lain, sehingga dapat diikuti dan diterima nasihat-nasihatnya.

(4). Sesungguhnya para rasul tidak pernah meminta upah apapun dari manusia atas petunjuk dan bimbingan yang mereka berikan. Maka wahai para da`I teladanilah!!!

(5). Sesungguhnya wajib atas orang yang berdakwah kepada Allah agar berbekal dengan bashirah dan di atas ilmu, karena itulah sifat para Rasul.

(6). Anjuran untuk ikhlas dalam beribadah dan berdakwah kepada Allah.

(7). Sesungguhnya segala sesuatu yang disembah/dipertuhankan adalah tuhan (ilah). Akan tetapi, jika dia berhak untuk diibadahi, maka dia adalah Tuhan yang haq, dan itu tidak berlaku melainkan hanya untuk Allah saja. Namun jika dia tidak berhak untuk diibadahi, yakni tuhan selain Allah, maka ibadah kepadanya adalah bathil dan ketuhanannya juga bathil. Hal ini sebagaimana firman Allah (artinya): “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar”. (Surat Al-hajj: 62).

(8). Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan orang yang telah Allah kehendaki keburukan padanya.

(9). Penjelasan bahwa diantara kesesatan yang paling bahaya dan paling dahsyat adalah seseorang yang menjadikan sekutu bagi Allah.

(10). Sesungguhnya barangsiapa yang mengesakan Allah, maka dia berada di atas hidayah yang nyata, jelas dan terang; karena dia membenarkan fitrah dan membenarkan apa yang dibawa oleh para Rasul.

(11). Kuatnya kepribadian lelaki tersebut, dimana dia menampakkan di hadapan kaumnya bahwa dia telah beriman. Dia beriman kepada Rabb mereka yang konsekuensinya mengharuskan mereka untuk mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya.

(12). Dakwah harus terus diperjuangkan, meskipun banyak penghadang, karena dakwah ini bukanlah tentang menunggu hujan reda, menanti ummat semua ridha, bahkan tentang berlalu bersama badai dan bertahan bersama keterasingan sendirian.

(13). Dakwah ini berat, jangan biarkan mereka yang berdakwah terkepung dalam susah derita, jadilah teman yang kedua bila ia sendiri, yang ketiga bila mereka berdua dan yang ke empat bila mereka bertiga, Allah akan mendatangkan pertolongannya untuk mereka-mereka yang menolong agama-Nya.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Rabu Malam Kamis, 03 Jumaadal Uula 1440 H/09 Januari 2019 M.

Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2813-504 a.n. MUKHLISIN, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Mantep berkata:

    mantep

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: