PENJAGA WAHYU YANG TERTINDIH DI BAWAH RERUNTUHAN PUING DAN BATU

PENJAGA WAHYU YANG TERTINDIH DI BAWAH RERUNTUHAN PUING DAN BATU

Oleh: Ahmad Rifangi

Hari itu, Jum`at 28 September sekitar pukul 17.30 Wita. Virja sedang melakukan rutinitas seperti biasanya di PONPES BANUA QURAN PALU, ia memurajah hafalannya, ta’lim dan lain sebagainya.

Di kala tepat pukul 17.55 WITA, menjelang sholat magrib, bahkan di masjid lain sudah di kumandangkan adzan, tiba-tiba bumi bergoncang dengan goncangan maha dahsyat yang membuat semua orang panik termasuk seluruh penghafal Al-Qur’an di PONPES tersebut. Saat itu Virza berada di lantai 1 ketika bumi bergetar dan laut meluap ke daratan, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, apalah daya bangunan pesantren tiga lantai itu akhirnya runtuh seketika dan menimpa Virza.

Tangan kirinya nahas tertimpa tiang-tiang penyanggah gedung tersebut. Bisa dibayangkan betapa berat, sakit dan ngilunya tertimpa tiang penyanggah itu. Keadaan bangunan hancur luluh-lantak sedang para penjaga wahyu di lantai 1 itu pun tertindis reruntuhan. Suara isak tangis dan teriakan meminta tolong terdengar sangatlah jelas, namun susana mencekam itu membuat masing-masing jiwa harus mengurus dirinya sendiri.

Singkat cerita, ada beberapa santri yang selamat dengan luka-luka ringan di tubuhnya, mereka saat itu berada di lantai dua.

Yang memberikan semangat dan doa kepada virja adalah kalimat: Virja pasti kuat (bisik salah seorang hafidzah yang selamat)…..muraja`ah virja muraja`ah!!!..(sahut hafidzah yang lain).

Dengan spontan Virja melakukannya dan tanpa disadari sakit di tangannya sudah tak lagi memiliki asa. Tiba-tiba lahir keajaiban dalam hatinya dan kekuatan yang sangat besar setelah dia melantunkan ayat ayat suci Al-Qur’an yang dia hafal selama di pondok pesantren. Teman-temannya memberikan minum dan makan apa adanya untuk Virja di tengah himpitan gedung yang menindisnya. Saat itu Virja sempat berfikir untuk meminta kepada temannya agar mengambil pisau dapur saja, dia hendak memotong tangannya karena hampir 15 jam belum bisa dievakuasi.

Bisa di bayangkan betapa sakitnya tangan tertimpa beton yang begitu berat dan tak tergoyahkan.

Singkat cerita, Sabtu sore datanglah tim evakuasi untuk menolong Virja, sehingga secara kasarnya kurang lebih 24 jam dia menahan sakitnya lengan kiri yang tertimpa beton-beton bangunan. Sahabat-sahabatnya yang tertimpa runtuhan yang berada di dekatnya sudah tak dapat terselamatkan, ada yang meninggal saat di bawa ke rumah sakit dan masih banyak lainnya.

Setelah selesai dievakuasi Virja pun dilarikan ke RS BAYANGKARA PALU.

Saat itu kami keluarga yang di kampung mendapat sms dari pengasuh PONPES: “apakah pihak keluarga sudah siap? karena tangan Virja harus di amputasi”. Setelah membaca sms itu tangis keluarga pecah tak terbendung termasuk saya.

Saya putuskan malam itu juga saya harus berangkat ke Palu.

Tetapi apalah daya, bahan bakar benar-benar tidak ada (langka) ditambah lagi terdapat kabar bahwa jalan di Gunung Kebun Kopi belum bisa di lewati.

Sampai akhirnya kami mengalah, memutuskan berangkat hari Ahad pagi saja.

Alhamdulilah, segala puji untuk Allah, saya dan keluarga tiba di Palu pukul 20:00 Wita. Tujuan utama saat itu langsung ke RS BAYANGKARA, sesampainya di sana justru tidak ada pasien atas nama Virja. Perawat mengabarkan bahwa pasien sudah dipindahkan ke RS UNDATA. Tanpa berfikir panjang saya langsung menuju RS UNDATA. Malam itu kota Palu bagaikan kota mati, kelam gulita dalam gelap tanpa cahaya, lampu semua padam disebabkan tiang-tiang listrik ambruk akibat gempa.

Setelah mencari beberapa menit akhirnya bertemulah saya dengan Virja yang sudah terbaring lemas dengan inpus terpasang di tangan kirinya dan balutan perban di hampir seluruh tangannya yang tertindis beton selama 24 jam itu.

Yang membuat saya menangis adalah karena tempat Virja di rawat ternyata di sela-sela teras RS yang berbatasan dengan parit-parit kecil Rumah Sakit. Dengan isak tangis itu saya mengadu kepada pemilik jagad, Ya Allah kuatkan adikku! beri dia kesabaran dalam menerima cobaan ini. Malam itu saya menghiburnya: “ijha kuat de ijha pasti bisa lewati ini semua”. Tak lama berselang teman-teman PKH Parigi Moutong datang menjenguk dan mengatakan: “pindah ke teras RS adekmu Mad” apa kayanya mau hujan”.

Kami mengangkat Virja ke teras RS agar lebih aman. Namun sejujurnya saya sangat takut karena saat itu masih sangat beruntun terjadi gempa susulan.

Benar dugaan saya, tepat pukul 02.00 gempa dengan kekuatan 5,5 SR kembali mengguncang Palu. Semua orang di dalam Rumah Sakit pun panik dan berhamburan keluar.

Kamipun sama, langsung menarik kasur Virja tanpa memikirkan lagi betapa sakit tangan kirinya kalau di tarik secara paksa, akhirnya virja tidur di pelataran RS UNDATA tanpa beratap apapun. Karena di tenda tenda yang disediakan sudah full dengan korban bencana. Aku berguman dalam diam: “ini lebih aman  -in syaa’allah- dari pada harus di teras RS.

Saya selalu berdo`a: Ya Allah berilah kekuatan untuk adiku! tetesan air mata ini tak lagi mampu terbendung mengucur deras di pipi, ijha istigfar de….ayoo murojah lagi hafalan Quranmu….In syaa’allah ada kekuatan untukmu…(pintaku), ijhapun melakukannya dan alhamdulilah, seakan ada kekuatan dalam dirinya, kata ijha.

Tiga hari tiga malam Virja di rawat di RS UNDATA, Dokter sempat mengatakan: “Pak secepatnya Virja diAmputasi agar tidak merambat kemana-mana inveksinya”. Saat itu saya bingung dan tak tau mau berkata apa lagi. Sedangkan pesan dari orang tua di kampung jangan dulu dilakukan amputasi sebelum mereka datang ke Palu melihat langsung tubuh Virja.

Saya pun selalu mencari alasan ke dokter agar jangan dulu melakukan amputasi.

Saya berfikir jika seandainya jadi diamputasi dan membutuhkan darah maka di mana saya harus mencari darah karena saat itu Palu benar-benar tidak kondusif. Makanan langka, BBM setetes pun tak ada ditambah lagi jaringan pun sangat susah.

Dalam hati saya bertekad, bahwa saya tidak boleh berlama-lama di Palu. Saya putuskan saat itu harus segera membawa Virja ke Makassar melalui jalur Gorontalo karena bandara Palu belum beroperasi maksimal. Hanya pesawat Herxules yang bisa lalu-lalang untuk membawa korban ke Makassar namun penuh sesak antrian manusia.

Saya berfikir kalau sperti ini keadaanya maka harus lewat jalur Gorontalo. Alhamadulillah tepat hari Selasa jam 03.00 Pagi keluarga dari kampung datang untuk menjemput Virja. Setelah semua dikemas dan meminta perawatan untuk virja, tepatnya pukul 05.00 kami meninggalkan kota Palu.

Hari Selasa pukul 15.15 Wita kami sampai di kampung halaman. banyak sanak saudara yang datang menjenguk memberikan motivasi untuk Virja, hari Rabu pukul 10.15 Wita kami berangkat ke Gorontalo dengan menggunkan mobil pick up yang di beri atap tenda.

Dengan modal nekad kami berangkat karena pada dasarnya kami belum pernah ke Gorontalo. Tidak memiliki siapa-siapa di sana kecuali tawakkal yang kami ikat kuat di dalam dada. Kami yakin Allah pasti menunjukkan kebesaran-Nya.

Demi Allah, sungguh benar, tidak berselang lama ketika kami berangkat saya mencoba membuat status di media sosial dan alhamdulilah banyak sekali yang merespon dan menawarkan bantuannya apabila nanti sudah sampai di Gorontalo.

Tepat pukul 17.05 kami sampai di RS MARISA Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo.

Virja pun langsung mendapatkan penanganan yang luar biasa oleh pihak RS, Namun tujuan utama kami adalah RS ALOEI SABOE Kota Gorontalo. Kurang lebih 2 jam Virja mendaptkan perawatan lalu kami melanjutkan perjalanan.

Yang membuat hati ini menangis lagi dan lagi adalah Allah tunjukkan kuasa-Nya. Kami hanya bisa menangis haru saat itu karena ada sebagian orang yang memberikan uang dan makanan untuk kami, mereka bilang kelurga harus kuat dan menerima cobaan ini. Mereka tahu bahwa kami adalah rombongan korban gempa tsunami Palu.

Kami melanjutkan perjalanan dan kurang lebih pukul 22.05 kami sampai di RS ALOEI SABOE Gorontalo. Dan Virja langsung mendapatkan perawatan yang begitu eksra dari pihak RS. Keesokan harinya kami dikejutkan dengan banyaknya bantuan yang datang (makanan, pakaian, popok, sabun, buah, dll). Ternyata info mengenai adik kami Virja yang notabenenya adalah penghafal Al-Qur’an sudah terdengar di komunitas-komunitas di Gorontalo. Sampai-sampai mereka berbondong-bondong silih berganti menjenguk Virja.

Saat itu saya duduk terdiam dan menangis. Ya Allah engkau tunjukan kuasa-Mu lagi.

Dan satu hal lagi yang membuat kami benar-benar menangis adalah ada beberapa kelurga yang menawarkan untuk tinggal di rumah mereka. Masya Allah.

Setelah mendaptkan perawatan dan konsultasi dengan dokter ahli, sampailah pada titik tidak ada pilihan selain AMPUTASI sebagai jalan yang terbaik. Karena ditakutkan bila tidak cepat di tindak lanjuti akan inveksi dan menyebar ke seluruh tubuh disebabkan keadaan tangan Virja sudah menghitam serta menyisakan aroma tak sedap.

Akhirnya kami sekeluarga sudah siap dengan keputusan yang terbaik. Virjapun sudah siap lahir batin bahkan dia sempat mengatakan: “kak mad saya siap, jodoh rejeki dan lainnya Allah sudah atur jadi saya tidak takut kehilangan tangan kiriku….saya siap….saya kuat….”, begitu ucap Virja.

Di situ saya menangis lagi. Ya Allah usiamu masih 18 Tahun de..tapi kamu sudah siap dengan cobaan ini..😭😭😭😭.. dia berkata lagi: Allah punya rencana lain untuk saya kak mad..😭😭😭

Operasipun di lakukan pada hari jumat pukul 14.35 – 15.45 dan alhamdulilah berjalan lancar.

Kami dipanggil ke dalam dan berkonsultasi dengan dokter ahli, kami menceritakan semua kronologinya, di luar dugaan yang membuat kami menangis adalah karena dokter berucap: “kalau ade Virja nantinya masih tetep mau melanjutkan menghafal Al-Qur’an saya siap memfasilitasinya”. Masya Allah, saya pun tak sanggup membendung air mata yang mengalir deras di pipi.

Kami pun keluar dan mencarikan ruangan untuk Virja. Saat keluar, istri saya berbisik: “abah, terkabul doanya virja”. Apa mi? tanya saya.

Virja berdoa apapun yang terjadi padanya dia berharap terjadi di hari Jum`at, jawab istri. Dan kala itu tepat operasi dilakukan di hari Jum`at tangal 05 Oktober 2018. Lagi-lagi saya mengucapkan Masya Allah.

Gorontalo,  6 Oktober 2018, Ahmad Rifangi.

(Saat Ini Virja sudah berada di rumah bersama keluarganya, tepatnya di desa Bugis Kec. Mepanga Kab. Parigimoutong Sulawesi Tengah, Sekitar 15 menit dari desa kami).

Diringkas Dengan Beberapa Perubahan Kata Tanpa Merubah Makna Oleh Mukhlisin Abu Uwais Musaddad, Di Kotaraya, Jum`at 02 November 2018, 00:13 Wita.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: