AMBIL BAIKNYA BUANG BURUKNYA

Ditulis Oleh: Abu Uwais Musaddad

Kaidah ini benar, karena memang kita dilarang mengambil yang buruk. Jika sudah tahu sesuatu itu buruk maka jangan diambil untuk dijadikan teman, istri, suami, menantu, dll, apalagi guru.

Di dunia ini kita akan berhadapan dengan kebaikan dan keburukan, maka tempuhlah jalan kebaikan. Allah berfirman:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

Artinya: “Dan kami tunjukkan kepadanya dua jalan”. (Surat Al-Balad: 10).

Yakni jalan kebenaran sudah Allah jelaskan untuk diikuti, serta jalan kesesatan telah Allah jelaskan untuk dijauhi.

Menerima kebenaran dari siapapun merupakan fitrah manusia.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam berkata: “Maka tidak ada seorangpun di antara kita kecuali Allah telah memberinya fitrah untuk menerima dan mencintai kebenaran”. (Lihat Syirkiyat wa `Aqa’id Shufiah ([I/1]).

Maka jika seseorang dihadapkan antara kebaikan dan keburukan namun justru malah menempuh jalan keburukan berarti ia telah menyalahi fitrahnya.

Namun, untuk mengetahui dan mampu membedakan baik dan buruk itu harus dengan ilmu, sebagaimana kita mengetahui makanan yang baik dan yang buruk dari ahli atau orang yang berpengalaman dalam hal makanan, bukan melalui perasaan yang penting enak, betapa banyak makanan yang enak ternyata berbahaya, begitu pula betapa banyak ustadz yang enak retorikanya, lucu dan menarik gaya bahasanya, namun sampah lah pemikirannya.

Bagi kita (khususnya yang belum bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah), maka jangan menyimpulkan sendiri berdasarkan perasaan, namun bertanyalah kepada ahlinya sebagai pengamalan atas perintah Allah:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (Surat An-Nahl: 43).

Masih tentang “ambil baiknya dan buang buruknya”, ungkapan ini sering dijadikan sandaran oleh mereka yang rela menceburkan dirinya untuk mencari ilmu dari siapa saja, mereka berdalil bahwa Abu Hurairah saja mengambil ilmu dari syetan, sebagaimana hadits tentang syetan mencuri harta zakat yang dijaga oleh Abu Hurairah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

 وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ،  فَأَتَانِى آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ،  فَأَخَذْتُهُ،  وَقُلْتُ وَاللَّهِ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.  قَالَ إِنِّى مُحْتَاجٌ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ، وَلِى حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ. قَالَ فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ؟  قَالَ,  قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ. قَالَ:  أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُود,  فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّهُ سَيَعُودُ.  فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.  قَالَ دَعْنِى فَإِنِّى مُحْتَاجٌ،  وَعَلَىَّ عِيَالٌ لاَ أَعُودُ،  فَرَحِمْتُهُ،  فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ،  فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:  يَا أَبَا هُرَيْرَةَ،  مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ.  قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً،  فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ.  قَالَ:  أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ.  فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ،  فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم،  وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لاَ تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ.  قَالَ دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا.  قُلْتُ مَا هُوَ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ،  فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ.  فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ،  فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:  مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ؟  قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ،  يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا,  فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ.  قَالَ:  مَا هِىَ؟  قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ,  وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ.  فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم:  أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ،  تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ.  قَالَ لاَ. قَال:  ذَاكَ شَيْطَانٌ

Artinya: “Rasulullah -shalallahu `alaihi wa sallam- menunjuk diriku sebagai pengawas zakat Ramadhan. Tiba-tiba datang seseorang dan mengais makanan, maka aku segera menangkapnya dan berkata kepadanya: Sungguh demi Allah akan aku ajukan engkau kepada Rasulullah -shalallahu `alaihi wa sallam-. Namun dia berkata: Sungguh aku sangat membutuhkannya, aku memiliki tanggungan keluarga dan kebutuhan yang mendesak. Maka aku biarkan dia berlalu. Pada pagi harinya Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bertanya: Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat oleh tawananmu tadi malam?. Aku menjawab: Wahai Rasulullah, dia mengadu bahwa dia memiliki tanggungan keluarga dan kebutuhan yang mendesak, aku iba melihatnya maka aku biarkan dia berlalu. Maka beliau berkata: Sesungguhnya dia telah mendustaimu dan dia akan kembali lagi. Maka aku tahu bahwa dia akan kembali lagi karena Rasulullah yang mengatakan bahwa dia akan kembali lagi. Maka (malam harinya) aku pun mengintainya. Datanglah dia sembari mengais makanan, maka aku menangkapnya dan berkata kepadanya: Sungguh akan aku bawa engkau menghadap Rasulullah -shalallahu `alaihi wa sallam-. Dia berkata: Biarkanlah aku berlalu, karena saya sangat butuh dan memiliki tanggungan keluarga, aku tidak akan kembali lagi. Aku pun merasa iba kepadanya. Pada pagi harinya Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat oleh tawananmu tadi malam?. Aku berkata: Wahai Rasulullah, dia mengadu bahwa dia memiliki tanggungan keluarga dan kebutuhan yang mendesak, aku iba melihatnya maka aku biarkan dia berlalu. Maka beliau berkata: Sesungguhnya dia telah mendustaimu dan dia akan kembali lagi. Maka (pada malam harinya) aku pun kembali mengintainya. Dia pun datang kembali dan kembali mencuri makanan. Maka aku kembali menangkapnya dan berkata: Sungguh akan aku bawa engkau menghadap Rasulullah -shalallahu `alaihi wa sallam-, Ini adalah ketiga kalinya engkau berkata untuk tidak akan kembali lagi namun engkau masih juga kembali. Dia berkata: Biarkanlah aku berlalu dan aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat yang akan bermanfaat bagimu. Aku berkata: Apa itu?. Dia menjawab: Jika kamu menuju tempat tidurmu (yakni hendak tidur) hendaklah kamu membaca Ayat Kursi –Allahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul-Qayyum- hingga selesai, maka niscaya engkau akan senantiasa dalam penjagaan Allah dan tidak akan didekati oleh syaithon sampai pagi. Maka kembali aku biarkan dia berlalu. Pada pagi harinya Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bertanya lagi kepadaku: Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?. Aku menjawab: Wahai Rasulullah dia menyatakan telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang Allah akan mendatangkan manfaat bagiku dengan kalimat-kalimat tersebut, maka karena itu aku membiarkan dia berlalu. Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam bertanya: Apa kalimat-kalimat itu?. Aku menjawab: Dia mengatakan: jika kamu menuju tempat tidurmu (hendak tidur) maka bacalah Ayat Kursi dari awal hingga akhirnya –Allahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul-Qayyum-, maka niscaya kamu akan senantiasa berada dalam penjagaan Allah dan syaithon tidak akan bisa mendekatimu sampai pagi. –Para shahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam melaksanakan kebajikan- Rasulullah berkata: Sungguh kali ini dia telah berkata jujur kepadamu namun asalnya dia adalah pendusta. Tahu kah kamu siapa yang kamu ajak bicara selama tiga malam kemarin wahai Abu Hurairah?. Aku menjawab: Tidak. Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: Dia adalah syaithon”. (Riwayat Al-Bukhari no. 2311).

Maka kita tanyakan kepada mereka yang berguru kepada siapa saja dengan kaidah “ambil baiknya buang buruknya”: apakah Abu Hurairah langsung mengamalkannya atau menanyakan kebenarannya dahulu kepada Rasulullah? Jawab: menanyakannya terlebih dahulu kepada ahlinya sebelum mengamalkan. Maka jangan gegabah langsung menganggukkan kepala pada setiap yang disuguhkan kepada kita jika kita beluum tahu hakikatnya berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pertanyaan berikutnya: apakah kemudian Rasulullah menganjurkan agar Abu Hurairah belajar dari syetan saja? Jawab: tidak, bahkan Nabi hanya berkata: kali ini dia benar walau sebenarnya secara asal dia adalah pendusta. Maka kebenaran boleh diterima dari siapa saja jika perkaranya memang sebuah kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun kebenaran tidak boleh dicari dari siapa saja, kebenaran harus dicari dari Ahlussunnah, bukankah Abu Hurairah tidak belajar lagi kepada syetan setelah kejadian itu? Ataukah Abu Hurairah menjadikan syetan sebagai guru dalam kebenaran dengan harapan syetan akan mengajarkan ilmu yang lain lagi? TIDAK.

Kebenaran memang  harus diterima dari siapa pun ketika ia datang, entah dia anak kecil, syetan, orang kafir, ahli bi`ah, dll. Namun mencari kebenaran harus selektif, dengan alasan sebagai berikut:

1). Allah berfirman pada dua surat berbeda tentang bertanyalah kepada ahli ilmu:

PERTAMA, Allah Ta`ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (Surat An-Nahl: 43).

KEDUA, Allah Ta`ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”. (Surat Al-Anbiya’: 07).

2). Rasulullah -shallallaahu `alaihi wasallam kepada Ibnu `Umar -radhiallaahu `anhuma-:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ، أَنَّهُ قَالَ : ” يَا ابْنَ عُمَرَ دِينُكَ دِينُكَ، إِنَّمَا هُوَ لَحْمُكَ وَدَمُكَ، فَانْظُرْ عَمَّنْ تَأْخُذُ، خُذْ عَنِ الَّذِينَ اسْتَقَامُوا، وَلا تَأْخُذْ عَنِ الَّذِينَ مَالُوا

Artinya: “Wahai Ibnu `Umar, jagalah agamamu! Jagalah agamamu!, Ia adalah darah dan dagingmu. Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah (terhadap sunnah), dan jangan ambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah)”. (Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi di dalam Al-Kifayaatu fii `Ilmi Ar-Riwaayah no. 306, dengan sanad yang Dha’if (lemah), namun maknanya benar).

Hadits ini maknanya sesuai dengan atsar (perkataan `ulama sunnah) yang diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin (seorang ulama tabi`in) –rahimahumallah-:

 إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya agama (Islam) ini adalah ilmu, maka perhatikanlah darimana kalian mengambil (ilmu) agama kalian.” (Lihat Fadhlul ‘Ilmi Wa Adaabu Thalabihi Wa Thuruqu Tahshiilihi Wa Jam`ihi, karya Abu Abdillah Muhammad bin Sa`id bin Ruslan, hal. 128).

KESIMPULANNYA:

  1. Kebenaran boleh diterima dari siapa saja. (Lebih lengkapnya silahkan baca tulisan saya di http://minhajussunnah.or.id/manhaj/kebenaran-bisa-jadi-allah-letakkan-pada-lisan-tulisan-lawan-kita/)
  2. Mencari kebenaran (belajar agama Islam) tidak boleh dari siapa saja, tetapi harus kepada ahlus-sunnah.
  3. Kebenaran diterima dari siapa saja bukan karena siapa yang menyampaikan, tetapi demi kebenaran itu sendiri yang memang memiliki hak untuk diterima. Seperti misalnya jika ada pelacur, pencuri, ahli maksiat, orang kafir mengatakan 1 ditambah 1 adalah 2, maka kita terima bukan karena siapa yang mengucapkan, namun karena kebenaran tersebut memiliki hak untuk dijunjung kebenarannya.
  4. Boleh menukil kebenaran dari pihak lain dan hal tersebut sama sekali bukan berarti merekomendasikan si pembawanya atau mendukungnya, dan juga bukan berarti menjadikan si empunya sebagai imam (guru) dalam belajar. Namun hanya semata-mata penunaian hak dari kebenaran, di mana hak kebenaran adalah harus diterima dari mana pun datangnya.

Semoga bermanfaat.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Selasa, 15 Rabii`ul Awwal 1441 H/12 November 2019 M.

Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: