ILMU ADALAH OBAT BAGI PENYAKIT-PENYAKIT HATI

Ditulis Oleh: Abu Uwais Musaddad

Al-Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata: “Penyakit-penyakit hati itu lebih berat (akibatnya) dibandingkan penyakit-penyakit badan. Karena ujung dari penyakit badan adalah menghantarkan penderitanya sampai kepada kematian. Adapun penyakit kalbu maka akan menghantarkan penderitanya menuju kesengsaraan yang abadi (terbawa akibatnya sampai setelah kematian). Dan tidak ada penyembuh bagi sakit ini (yaitu sakit kalbu) kecuali dengan ilmu (yang bermanfaat).

Oleh karena itu Allah menamakan Kitab-Nya (Al-Qur’an) sebagai obat atau penawar bagi penyakit-penyakit yang terdapat dalam dada. Allah Ta`ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ  ٥٧

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Surat Yunus: 57)”. (Lihat: Miftaah Daar As-Sa’adah [I/370]).

KARENA OBAT BAGI HATI YANG SAKIT HANYALAH ILMU (YAITU AL-QUR’AN DAN SUNNAH).

Al-Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- juga berkata: “Intinya, sesungguhnya ilmu bagi hati itu adalah laksana air bagi ikan. Jika ikan tidak mendapat air, niscaya ika akan mati. Ilmu bagi hati juga seperti cahaya bagi mata, atau suara bagi telinga. Jika mata tidak mendapatkan cahaya niscaya ia buta, jika telinga tidak mendapatkan suara niscaya ia tidak mendengar apa-apa. Ketiadaan ilmu menyebabkan seseorang bagaikan mata yang buta, telinga yang tuli, dan lisan yang bisu.

Oleh karena itu Allah menyifati orang-orang jahil dengan sifat buta, tuli dan bisu. Yang demikian itu karena sifat yang melekat pada hati mereka ketika tidak diisi dengan ilmu yang bermanfaat maka tetaplah buta, tuli dan bisu. Allah Ta`ala berfirman:

وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِۦٓ أَعۡمَىٰ فَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ أَعۡمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلٗا  ٧٢

Artinya: “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”. (Surat Al-Isra’: 72). Maksudnya adalah kebutaan hati di dunia.

Allah Ta`ala juga berfirman:

……وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ مَّأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ……  ٩٧

Artinya: “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam”. (Surat Al-Isra’: 97). Karena seperti itulah mereka di dunia, sedangkan seorang hamba itu akan dibangkitkan persis sebagaimana ia mati di atasnya”. (Lihat: Miftaah Daar As-Sa’adah [I/371]).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Selasa20 Syawal 1442 H/ 01 Juni 2021 M. Di Pesantren Minhajussunnah Kotaraya

(Artikel Ini Pernah Dimuat Dalam Akun Facebook Abu Uwais Musaddad Pada Status No. 1337).

Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: