KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

Ditulis Oleh: Abu Uwais Musaddad

Saat ini kita sudah berada di hari pertama bulan Dzulhijjah. Artinya, kita sedang menjalani hari-hari yang memiliki keutamaan di sisi Allah Ta`ala. Amal ibadah pada hari itu lebih dicintai Allah Ta`ala daripada ibadah para hari yang lain.

Rasulullah –shallallhu`alaihi wa sallam- bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Artinya: “Tidak ada hari dimana suatu amal shalih lebih dicintai Allah `Azza wa Jalla  melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)“. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah lebih utama dari jihad di jalan Allah?. Nabi –shallallhu`alaihi wa sallam- bersabda: Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (ia mati syahid)”. (Riwayat Al-Bukhari no. 969, Abu Dawud no. 2438, At-Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, Ad-Darimi [II/25], Ibnu Khuzaimah no. 2865, Ibnu Hibban no. 324, dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu).

Ada banyak rahasia mengapa hari-hari di awal bulan Dzulhijjah tampak begitu agung dalam penilaian Allah,  di antara keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini yaitu:

1. Bahwa Allah bersumpah dengan sepuluh hari tersebut dalam firman-Nya,

وَالْفَجْرِ، وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya: “Demi fajar, demi malam yang sepuluh”. (Surat Al-Fajr: 1-2).

Yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu `Abbas, Ibnu az-Zubair, Mujahid, dan lainnya dari kalangan kaum Salaf dan Khalaf. (Lihat Tafsir Ibni Katsir [VIII/390 Cet. Dar Thiybah).

2. Sepuluh hari tersebut termasuk hari-hari yang ditentukan, yang padanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk banyak bertasbih, bertahlil, dan bertahmid.

Allah Ta`ala berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Artinya: “…dan agar mereka menyebut nama Allâh pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rizki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak…”. (Surat Al-Hajj: 28).

Ibnu `Abbas -Radhiyallahu `anhu- berkata: “Hari-hari itu adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah”. Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir secara marfu` bahwa ini (hari yang dimaksud) adalah sepuluh hari yang disumpah oleh Allah Ta`ala dalam  firman-Nya:

وَالْفَجْرِ، وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya: “Demi fajar, demi malam yang sepuluh”. Surat Al-Fajr: 1-2. (Lihat Tafsir Ibni Katsir [V/415], Cet. Dar Thiybah).

3. Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bersaksi bahwa sepuluh hari tersebut termasuk hari-hari yang paling utama di dunia.

Beliau -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ، يَعْنِي : عَشْرَذِيْ الْحِجَّةِ، قِيْلَ : وَلَامِثْلُهُنَّ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ : وَلَامِثْلُهُنَّ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ عَفَّرَ وَجْهَهُ فِيْ التُّرَابِ.

Artinya: “Hari-hari yang paling utama di dunia ini yaitu hari yang sepuluh, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah”. Ditanyakan kepada beliau: Termasuk lebih utama dari jihad dijalan Allah?. Beliau menjawab: Termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang menutup wajahnya dengan debu (mati syahid-pent)”. (Riwayat Al-Bazzar dalam Kasyful-Astar [II/28, no. 1128]. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih At-Targhib Wat–Tarhib no. 1150).

4. Di dalamnya terdapat hari Arafah, yang merupakan hari yang terbaik. Dan ibadah haji tidak sah apabila tidak wukuf di `Arafah.

Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Artinya: “Haji itu wukuf di Arafah”. (Riwayat At-Tirmidzi no. 889).

5. Di dalamnya terdapat hari penyembelihan qurban.

6. Pada sepuluh hari tersebut, terkumpul induk-induk ibadah yaitu shalat, puasa, sedekah, haji, yang tidak terdapat pada hari-hari selainnya.

Di antara amalan-amalan sunnah pada awal bulan Dzulhijjah adalah sebagai berikut:

1. Berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah.

Mulai dari awal bulan Dzulhijjah, ternyata telah ada amalan yang disunnahkan untuk kita kerjakan. Diriwayatkan dari sebagian isteri Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam-, mereka berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِىْ الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرِ، وَأَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيْسَ.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari bulan Dzulhijjah, hari ‘Asyura, tiga hari pada setiap bulan, dan hari Senin pertama awal bulan serta hari Kamis. (Shahîh: HR Abu Dawud (no. 2437).

2. Puasa `Arafah

Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda :

…صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ…

Artinya: “Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allâh, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya….”. (Riwayat Muslim no. 1162).

Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- juga bersabda ketika ditanya tentang puasa hari ‘Arafah:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Artinya: “…menghapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun setelahnya…”. (Riwayat Muslim no. 1162).

Puasa ini dikenal pula dengan nama puasa Arafah karena pada tanggal tersebut orang yang sedang menjalankan haji berkumpul di `Arafah untuk melakukan runtutan amalan yang wajib dikerjakan pada saat berhaji yaitu ibadah wukuf.

Pendapat jumhur ulama bahwa dosa-dosa yang dihapus dengan puasa Arafah ini yaitu dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka wajib baginya taubat. Pendapat mereka dikuatkan dengan perkataan mereka: Karena puasa Arafah tidak lebih kuat dan lebih utama dari shalat wajib yang lima waktu, shalat Jum’at, dan Ramadhan. Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَابَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Shalat yang lima waktu, shalat Jum’at sampai ke Jum’at berikutnya, Ramadhan sampai ke Ramadhan berikutnya, itu menghapus (dosa-dosa) di antara keduanya, selama dia menjauhi dosa-dosa besar. (Riwayat Muslim no. 233).

Mereka berkata: “Jika ibadah-ibadah yang agung dan mulia tersebut yang termasuk dari rukun-rukun Islam tidak kuat untuk menghapuskan dosa-dosa besar, maka puasa Arafah yang sunnah ini lebih tidak bisa lagi”. Inilah pendapat yang rajih. (Fathu Dzil-Jalali wal-Ikram [VII/356]. Lihat juga Tas-hilul-Ilmam [III/241] dan Taudhihul-Ahkam [III/530-531]).

3. Takbiran

Ketahuilah, bahwa disyari’atkan bertakbir, bertahmid dan bertahlil pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu secara marfu` (artinya): “Tidak ada hari-hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allâh dari pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Maka hendaklah kalian bertasbih, bertahlil, dan bertakbir. (Riwayat Abu `Utsman Al-Buhairi dalam Al-Fawa-id. Lihat Irwa’ul Ghalill [III/398-399]).

Disyari’atkan juga bertakbir setelah shalat Shubuh pada hari Arafah sampai akhir hari tasyriq, yaitu dengan takbir:

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِله الْحَمْدُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan bagi Allah-lah segala puji.

4. Memperbanyak amal shâlih dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla

Yaitu dengan memperbanyak shalat-shalat sunnah, sedekah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya, memperbanyak dzikir kepada Allah, bertakbir, membaca al-Qur’an, dan amalan-amalan shalih lainnya. Sedekah dianjurkan setiap hari, maka pada hari-hari ini lebih sangat dianjurkan lagi, begitu juga ibadah-ibadah yang lain.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata:

…كَانَ سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامَ الْعَشْرِ، اِجْتَهَدَ اِجْتِهَادًا شَدِيْدًا حَتَّى مَايَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

Artinya: “Bahwa Sa`id bin Jubair jika memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, ia sangat bersungguh-sungguh sampai-sampai dia hampir tidak mampu melakukannya. (Riwayat Ad-Darimi [II/26]).

5. Haji dan Umrah

Allah Ta`ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Artinya: “….kewajiban bagi manusia kepada Allâh, berhaji ke Baitullah, bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan…”. (Surat Ali `Imran: 97).

Haji dan Umrah adalah salah satu ibadah yang paling mulia dan sarana taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah yang paling afdhal.

6. `Idul Adh-ha

Dari Anas bin Malik -radhiyallahu anhu-, beliau berkata: “Bahwa ketika Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bertanya: Dua hari apakah ini? Mereka menjawab: Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman Jahiliyyah, kemudian Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا؛ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah  telah memberikan ganti kepada kalian dua hari yang lebih baik; yaitu `Idul Fithri dan `Idul Adh-ha. (Riwayat Ahmad [III/103, 178, 235, 250], Abu Dawud no. 1134, dari Sahabat Anas -radhiyallahu anhu-).

7. Berqurban

Di antara amal taat dan ibadah yang mulia yang dianjurkan adalah berqurban. Qurban adalah hewan yang disembelih pada hari raya ‘Idul Adh-ha berupa unta, sapi dan kambing yang dimaksudkan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah -subhanahu wa Ta`ala.

Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Laksanakanlah shalat untuk Rabb-mu dan sembelihlah kurban”. (Surat Al-Kautsar: 2).

Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Artinya: “Barang siapa yang memiliki kelapangan namun ia tidak berqurban maka jangan mendekati masjid kami. (Riwayat Ahmad [I/321], Ibnu Majah no. 3123, dan al-Hakim no. 389, dari Sahabat Abu Hurairah I . Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrij Musykilatil-Faqr no. 102 dan Shahih At-Targhib wat-Tarhib [I/629] no. 1087).

Sebagian ulama berpendapat dengan dasar hadits di atas, bahwa hukum menyembelih binatang qurban bagi seseorang adalah wajib bagi yang mampu.

`Atha’ bin Yasar bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari: “Bagaimana penyembelihan qurban pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab:

كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّيْ بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، فَيَأْكُلُوْنَ وَيُطْعِمُوْنَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ، فَصَارَتْ كَمَا تَرَى

Seseorang berqurban dengan seekor kambing untuk diri dan keluarganya. Kemudian mereka memakannya dan memberi makan orang-orang sampai mereka berbangga. Maka jadilah seperti yang engkau lihat”. (Riwayat ATirmidzi no. 1505 dan Ibnu Majah no. 3147. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghalil no. 1142).

Barangsiapa yang berqurban untuk diri dan keluarganya maka disunnahkan ketika menyembelih mengucapkan:

بِاسْمِ الله، وَالله أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ، اَللَّهُمَّ هَذَا عَنِّيْ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِيْ

Artinya: “Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah, terimalah (qurban) dariku, ya Allah, ini dariku dan dari keluargaku.

Disunnahkan bagi orang yang berqurban agar menyembelih sendiri. Jika tidak mampu maka hendaklah ia menghadiri, dan tidak diperbolehkan memberikan upah bagi tukang jagal dari hewan kurban tersebut.

Kemudian, juga tidak memotong rambut dan kuku bagi yang berqurban. Seseorang yang ingin berqurban, dilarang memotong kuku atau rambut dirinya (bukan hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai ia memotong hewan qurbannya.

Dari Ummu Salamah -radhiyallahu `anha-, bahwasanya Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ذَبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلَالَ ذِيْ الْحِجَّةِ، فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّي

Artinya: “Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (pada hari raya), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah memotong (mencukur) rambutnya dan kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih qurbannya. (Riwayat Muslim no. 1977).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah Jum`at 01 Dzulhijjah 1440 H/02 Agustus 2019 M.

Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2813-504 a.n. MUKHLISIN, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: