SUNGGUH BERUNTUNG ORANG YANG TERJAGA DARI SIFAT KIKIR

Ditulis Oleh: Umar Sulaiman

Allah Ta’ala berfirman:

( وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ)

Artinya: “Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Hasyr: 9).

Ini adalah prinsip pokok Al-Qur’an yang jelas, yang berkaitan erat dengan masalah akhlak, pendidikan, penyucian hati, dan berkaitan juga dengan hubungan sesama manusia.

Prinsip ini terdapat dalam Al-Qur’an di dua tempat:

Pertama: dalam surat al-Hasyr ayat 9 yang berisi pujian Allah terhadap orang-orang Anshar, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

Artinya: “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Hasyr: 9).

Kedua: dalam surat At-Taghobun ayat 14-16, yang berisi pembicaraan tentang fitnah harta, anak, dan istri. Allah Ta’ala berfirman:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghobun:14-16).

Makna kaidah ini tidak akan jelas kecuali dengan menjelaskan terlebih dahulu makna kata  (الشح) (kikir);

“Kekikiran” pada asalnya bermakna: mencegah, kemudian menjadi mencegah disertai rasa tamak. Dari kata inilah kata (الشح) berasal، yaitu sifat pelit disertai rasa tamak, dikatakan: تشاح الرجلان على الأمر (dua orang laki-laki saling kikir atas suatu perkara).

Abdurahman bin Auf pernah terlihat thowaf mengelilingi Baitullah seraya berdoa, “Wahai Tuhanku, jagalah aku dari sifat kikir diriku! Wahai Tuhanku, jagalah aku dari sifat kikir diriku!” Dan beliau tidak menambah doanya itu. Maka beliau ditanya, “(Anda berdoa) dalam masalah ini saja! Beliau menjawab, “Apabila aku dijaga dari sifat kikir diriku ini, niscaya aku tidak akan pernah mencuri, berzina, dan tidak melakukan perbuatan keji.”

Sejumlah ahli tafsir berkata tentang firman Allah, yang artinya: “Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya”, maksudnya, hendaklah dia tidak mengambil sesuatu yang diharamkan oleh Allah, dan tidak menahan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk ditunaikan, maka sifat kikir memerintahkan kebalikan dari apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya, karena Allah melarang kedzaliman dan memerintahkan kebaikan, sedangkan sifat kikir memerintahkan kedzaliman dan melarang kebaikan.”.

Ibnu Taimiyah berkata, “Maka sifat kikir, yaitu kuatnya sifat tamak jiwa, melahirkan sifat pelit dengan menahan apa yang menjadi kewajibannya, melahirkan kedzaliman dengan mengambil harta orang lain, melahirkan putusnya hubungan silaturahim, dan melahirkan sifat dengki.”.

Jika diperhatikan kaitan kaidah ini– yang terdapat dalam surat al-Hasyr dan at-Taghobun- dengan masalah harta! Karena harta – Wallahu a’lam- merupakan sesuatu yang paling jelas yang dapat menyingkap sifat kikir (pada diri seseorang), meskipun sifat kikir ini tidak terbatas dalam masalah harta saja.

Terdapat kisah seorang yang bernama Qois bin Sa’ad bin Ubadah, dia termasuk diantara para dermawan yang terkenal, sehingga ketika suatu waktu dia sakit, teman-temannya melambat-lambatkan diri dalam menjenguknya, maka dia bertanya tentang mereka, lalu orang-orang menjawab, “Sesungguhnya mereka malu karena hutang-hutang mereka kepadamu!” Qois pun berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang mencegah kawan-kawanku untuk datang menjengukku.” Lalu dia menyuruh seseorang untuk mengumumkan, “Barangsiapa yang mempunyai hutang kepada Qois, maka hutangnya itu lunas.” Maka tidaklah datang waktu petang melainkan pintu rumahnya menjadi jebol saking banyaknya orang yang menjenguknya!.

Alangkah indahnya jiwa-jiwa besar dan akhlak-akhlak agung ini! Semoga Allah memperbanyak orang-orang seperti mereka.

Semoga bermanfaat…

Referensi: kitab Qowaidu Qur-aniyyah, 50 Qoidah Qur-aniyyah finnafsi wal hayaah, karya: Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Hafizhohullah.

Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2813-504 a.n. MUKHLISIN, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: