TAFSIR AS-SA`DIY (22) MISTERI KEKAYAAN

Ditulis Oleh: Abu Uwais Musaddad

Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”. (Surat At-Taubah: 28).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`diy menjelaskan: “Jika kalian takut miskin atau sangat butuh wahai kaum muslimin, akibat melarang orang-orang musyrik dari mendekati Masjidil Haram, lalu sarana-sarana dunia diputus dari kalian oleh mereka, maka “Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya”. Rizki itu tidak terbatas pada satu pintu dan tempat saja, bahkan tidaklah satu pintu tertutup melainkan pintu-pintu yang akan terbuka, karunia Allah sangatlah luas, dan kemurahan-Nya sangatlah besar, terlebih khusus lagi bagi mereka yang meninggalkan sesuatu karena mengharap wajah Allah Yang Mulia, karena sesungguhnya Allah adalah Maha Pemurah di antara para pemurah, dan Allah telah membuktikan janji-Nya dengan menjadikan kaum muslimin berkucukupan dengan karunia-Nya dan membentangkan rizki untuk mereka yang membuat mereka menjadi orang-orang paling kaya bahkan paling berkuasa.

Allah berfirman dalam ayat ini “jika Dia menghendaki”. Allah mengaitkan kekayaan dengan kehendak-Nya, karena kekayaan di dunia bukan termasuk konsekuensi iman (yang beriman pasti kaya?, belum tentu -pent) dan kekayaan tidaklah menunjukkan kecintaan Allah, oleh karenanya Allah mengaitkannya dengan kehendak-Nya, karena Allah memberikan dunia kepada mereka yang Dia cintai dan kepada mereka yang Tidak Dia cintai, Dan Allah tidak menganugerahkan keimanan dan agama kecuali kepada yang Dia cintai.

Allah berfirman di akhir ayat “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” yakni ilmu Allah sangatlah luas, mengetahui siapa yang layak diberi kekayaan dan siapa yang tidak layak, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan posisinya.

(Lihat Taisiir Al-Kariimir-rahmaan Fii Tafsiir Kalaamil Mannaan, Hal. 333-334, Cet. Maktabah An-Nubalaa’. Karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`diy).

|Selesai Ditulis Di Kotaraya, Sulawesi Tengah. Pada Selasa Malam Rabu, 09 Rajab 1441 H/07 Maret 2020 M.

(Artikel Ini Pernah Dimuat Dalam Akun Facebook Abu Uwais Musaddad Pada Status No. 1283).

Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: